Conan

Kamis, 13 Desember 2012

I Choose You



Penulis: Reski Batari
Based on novel: Khokkiri by Lia Indra Andriana



Aku terbangun mendengar ringtone handphoneku yang kuletakkan di meja dekat pintu. Barusan aku tertidur di salah satu sofa yang berada dalam ruangan khusus yang selalu aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantorku. Kuingat bahwa aku begini karena kelelahan memikirkan dua pria yang selama ini telah campur tangan di kehidupan asmaraku.
            Aku tidak pernah membayangkan akan dibuat pusing dengan masalah cinta yang sangat rumit di kehidupanku kelak. Aku hanya ingin menjalani hubungan dengan wajar bersama pria yang kucintai seperti impian wanita pada umumnya. Aneh memang, aku yang selalu yakin dengan segala pilihan dan keputusanku mengalami dilema cinta yang tak kunjung kutemui akar penyelesaiannya. Tapi, mengingat Richard dan Adriel yang sama-sama menaruh harapan padaku, mau tidak mau aku memang harus menjalani hubungan asmara yang menurutku sangat difficult.
            Memang, sangat tidak mudah untuk memilih salah satunya. Richard yang memiliki pikiran matang, kuyakini mampu meng-handleku saat aku mulai merasa sangat terbatas dan kehilangan arah dengan segala kondisiku. Perasaan ingin memilikinya sangat kuat di hatiku. Aku sangat membutuhkannya, dan sangat menginginkannya tentunya.
            Sementara aku juga sangat tidak siap kehilangan Adriel. Kupikir menyendiri dan memutuskan untuk tidak bertemu dengan mereka selama beberapa minggu adalah solusi terbaik untuk memantapkan hatiku. Tapi itu justru menyiksaku karena tak dapat menghilangkan kenangan selama bersama mereka. Adriel yang kupikir kekanak-kanakan karena usianya memang lebih muda dariku justru membuatku tercengang. Bersamanya hidupku lebih berwarna. Dia dengan senang hati mengenalkanku dengan keindahan hidup yang kupikir tak akan kudapatkan jika bersama Richard. Adriel yang selalu melengkungkan senyum indahnya tiap kupanggil dia dengan kata “oppa”.
            Oh, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sanggupkah aku mematahkan hati salah satu di antara mereka? Mungkin akan adil jika tidak memilih siapapun. Tapi aku yakin bukan ini yang mereka harapkan dan tentunya juga bukan ini yang akan kulakukan.          
            Aku bangkit dari sofa lalu mengambil handuk dan segera memasuki kamar mandiku. Kuharapkan berendam selama beberapa menit akan menjernihkan pikiranku yang mulai kusut. Oh iya, tentu saja aku ingat bahwa hari ini merupakan hari yang mereka (Richard-Adriel) tunggu. Hari ini aku akan memilih siapa di antara meraka yang akan kujadikan pendamping hidupku selamanya. Memikirkan itu, membuatku gelisah. Arrgghh… Mungkin lebih baik jika aku mati saja.
***
            Aku dan Adriel terdiam menunggu kedatangan Becca. Topik pembicaraan yang kami bahas semenjak Adriel menginjakkan kaki di apartemenku tidak mengubah suasana canggung di antara kami. Ketegangan jelas terpancar dari raut wajah adik tiriku ini, dan sangat kupastikan bahwa ekspresiku tidak jauh beda dengannya. Aku tidak tahu apakah aku kelihatan egois dengan menyuruh Becca memilih salah satu di antara kami. Aku merasa tidak wajar jika mundur dari kompetisi ini dengan alasan rela mengorbankan perasaan demi adikku yang amat kusayangi. Aku ini tunangan Becca. Dan kurasa jika aku memang egois, seharusnya aku tidak membiarkan Adriel ikut dalam kompetisi ini. Tidak, tidak akan ada kompetisi. Aku berhak melarang Adriel meminta Becca untuk mempertimbangkan perasaannya. Karena sejak awal Becca memang milikku.
            Tapi itu tak akan mungkin kulakukan, karena Adriel adalah satu-satunya saudara laki-laki yang aku punya. Satu-satunya keluarga yang kuharapkan akan menemaniku bekerja sama untuk membangun kembali keluarga yang telah rapuh setelah kepergian ayahku. Dan bagaimana bisa aku memutuskan seuatu tanpa pertimbangan dari Becca?. Becca yang selama ini kelihatan bimbang dengan perasaanya.
            Aku dapat melihat pancaran mata Becca jika menatap Adriel. Sesuatu yang tak ingin kuakui tapi memang benar adanya bahwa Becca juga menyukai Adriel. Becca akan terlihat nyaman jika bersama Adriel. Bukan berarti jika bersamaku dia merasa tidak nyaman. Itu tidak mungkin, karena Becca sendiri yang mengaku bahwa dia sangat nyaman bila bersama denganku, katanya aku begitu melindunginya. Tapi ini konteks “kenyamanan” dengan arti yang sulit kujelaskan. Huff… memikirkan zona kenyamanan ini semakin membuatku pusing. Intinya aku tak boleh gegabah menekan Becca untuk memilihku hanya karena pertimbangan perbandingan waktuku dengan Adriel mengenal Becca menjadikanku lebih unggul. It’s not fair man!
            Suara sol sepatu membuatku tersadar dengan keberadaan Becca di ruangan ini. Becca yang mengenakan kaos bergambar gajah besar dengan dipadukan celana denim sebagai bawahannya membuatnya terlihat segar dan santai. Betapa aku ingin memeluknya, tapi keinginan kuat itu segera kuabaikan demi menjaga perasaan Adriel yang melihat Becca dengan tatapan memuja. Akhirnya, aku hanya bisa menyapa dengan kata…
            “ Apa kabar?” Sumpah! Aku tak pernah secanggung ini dalam situasi apapun.
            “ Baik.” ucapnya lirih.
            “Ayo duduk!” aku menuntun  Becca duduk di sofa bersamaku, dengan Adriel yang duduk di hadapan kami.
            Annyeong? Oraenmanieyo oppa” Becca menyapa Adriel yang sedari tadi hanya berperan sebagai penonton. Aku memang tidak tahu menahu tentang bahasa Korea, tapi jika sebatas kalimat yang diucapkan Becca tadi, aku tahu kalau itu merupakan sapaan untuk Adriel. Jelas, karena Becca tidak mungkin menyapaku dengan bahasa yang tidak kumengerti.
              Hm. Ne, oraenmanieyo.” Selanjutnya terjadi percakapan di antara mereka yang tidak mungkin kupahami.
Aku memang membenci di saat-saat seperti ini. Melihat mereka menggunakan bahasa itu membuatku dongkol. Mereka terlihat sangat akrab jika berbicara dengan menggunakan bahasa Negara yang digilai para gadis zaman sekarang. Apalagi jika Becca mulai memanggil Adriel dengan sebutan oppa. Mengapa juga Becca memanggilnya dengan sebutan itu? Padahal jelas-jelas Becca lebih tua dibandingkan Adriel. Apakah Adriel yang meminta untuk dipanggil oppa? Atau Becca sendiri yang berinisiatif agar makin terjalin keakraban di antara mereka?
Geuraeyo.” Suara Becca menyadarkanku. Mereka membahas apa saja tadi? Ah, seandainya aku lebih memilih mendengarkan mereka berbicara mungkin aku bisa menyumbangkan suara dalam percakapan ini. Tapi bagaimana mungkin aku ikut menyumbang sementara bahasanya saja tidak kumengerti?
“ Bisakah kalian menggunakan bahasa Indonesia saja saat bersamaku?” tanyaku dengan nada tak bersahabat.
“ Maaf…” kata Becca dengan mimik menyesal.
“ Ok! Bisakah kita ke inti masalah sekarang?” tanyaku tak sabaran.
Hyeong! Kita bisa membicarakan hal itu nanti.” Aku tahu Adriel hanya mencoba bersikap tenang. Tidak mungkin dia bisa tenang di saat seperti ini. Mendesak Becca agar menentukan pilihannya kurasa lebih bijaksana dibandingkan membawanya lari agar jauh-jauh dari Adriel.
“ Tidak, aku tidak ingin nanti. Aku ingin Becca mengatakannya sekarang. Aku akan menghargai apapun keputusannya. Aku harus terima  jika memang Becca tak menginginkanku lagi.” Sekuat tenaga aku mengatakan semua itu.
“ Richard! Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah berpikir untuk tidak menginginkanmu. Aku selalu memikirkanmu setiap hari, berharap bahwa cinta kita akan selalu bertahan seperti yang kita inginkan selama ini. Jadi bagaimana mungkin kamu mempunyai pikiran seperti itu?” jawabnya tak terima dengan tuduhanku.
“ Jadi kamu memilihku?” Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa tenang dan sabar sedikit saja?
“ Masalahnya tidak semudah itu Richard, kamu tahu itu.” Becca mengabaikan pertanyaanku.
Hyeong, bisakah kita memberikan Becca waktu untuk berpikir?” Adriel mulai merasa keresahanku.
  Tidak lagi. Aku sudah hampir gila dengan absennya di tiap hariku. Aku sudah lelah dengan keadaan yang nampak tidak jelas, sementara kita tahu bahwa keadaan sebenarnya cukup jelas. Becca adalah tunanganku, artinya dia milikku.” Aku sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini. Akan kuakhiri jika aku bisa. Tapi sekuat apapun usahaku, itu akan sia-sia karena hanya Becca yang berhak menentukan akhir dari cerita cinta segitiga ini. Memikirkannya aku tersenyum miris. Kisahku seperti cerita sinetron yang sering ditonton oleh mama secara rutin, dengan aku sebagai salah satu tokoh utamanya.
Hyeong, aku minta maaf jika kehadiranku membuat hubunganmu dengan Becca seperti ini. Aku tahu dari awal akulah yang salah dengan seenaknya masuk di kehidupan kalian. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengontrolnya hyeong. Aku tidak dapat menahan perasaanku, dan sebelum kusadari bahwa kamulah tunangan Becca, aku sudah terlalu jauh. Sudah sangat jauh untuk menarik kembali perasaanku ini.” kata Adriel dengan sungguh.
“ Richard, aku benar-benar menyesal. Sesungguhnya aku juga tidak menginginkan situasi seperti ini. Tanpa kusadari Adriel memberikan warna lain di kehidupanku, dan aku tak dapat mengelak. Aku menyukai setiap kebersamaanku dengannya. Sama ketika kita bersama, aku juga merasakan bahagia bila di dekatnya.” Mata Becca mulai memerah.
“ Tapi kita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Tanpa kejelasan, ini konyol namanya.” kataku dengan suara keras.
Selanjutnya aku mulai melihat Becca menangis sesegukan. Dari sudut mataku dapat kulihat Adriel beranjak dari sofa yang ia duduki kemudian mendekat ke arah Becca. Tapi aku lebih cepat merangkul bahu gadisku lalu membenamkan wajahnya ke dadaku. Tak akan kubiarkan poin Adriel bertambah di mata Becca.
“ Richard, maafkan aku… maafkan.. aku…” Kuingin memukul diriku sendiri yang menyebabkan Becca menangis karenaku.
Aku mengusap-usap punggung Becca, mencoba menenangkannya. Meskipun aku ingin memilikinya, tapi aku juga tak ingin melihatnya menangis seperti ini. Menangisi dua pria kakak beradik yang sama-sama mencintainya. Astaga! pesona apa yang dipancarkan Adriel sehingga membuat Becca ragu untuk memilihku. Bukannya sombong, tapi Becca memang pernah mengatakan bahwa dia sangat bahagia bersamaku, ditambah dengan kebersamaan kami selama ini tak dapat dibandingkan dengan hari-hari yang ia lalui bersama Adriel. Tapi sekali lagi, ini bukan masalah waktu. Hanya saja cinta memang kadangkala membuat keadaan menjadi rumit.
“ Richard, I love you.” kata Becca setelah agak tenang.
I know.” Meskipun nada Becca sama sekali tidak menunjukkan sedang menunggu jawaban. Tapi aku yakin, dia ingin aku tahu bahwa dia mencintaiku.
***
“ Richard, I love you.”
I know
Kalimat itu begitu menusukku. Sejak awal aku sudah tahu, kalau Becca tak akan mungkin memilihku. Melepaskan hubungan yang sudah lama terjalin itu tidak mudah, apalagi jika dibandingkan dengan hubungan tanpa status yang belum tentu akan berlanjut ke tingkat yang serius. Tapi, aku mencoba untuk mengharapkannya, karena memang tak ada pilihan. Seperti yang kukatakan tadi, aku tak dapat mengontrol perasaanku terhadap Becca.
Tak pernah kusangka, gadis yang belum lama kukenal tapi mampu mengambil hatiku ini memberikanku sinyal bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Meskipun dia tidak mengucapkan kalimat sakral itu, tapi aku tahu kalau dia juga mecintaiku. Dengan seketika aku menaruh harapan untuk menjalani hubungan serius dengannya, membayangkan kehidupan indah di masa depan bersamanya. Tapi  seketika itu juga semua anganku musnah karena Becca telah memiliki tunangan yang tidak lama lagi akan menikahinya, dan sialnya orang yang beruntung itu adalah kakak tiriku, keluargaku satu-satunya.
Aku memang belum pernah memiliki hubungan spesial dengan gadis selama aku hidup. Meskipun beberapa teman sekolahku dulu pernah mengajakku kencan, tapi aku tak pernah menanggapinya. Itu karena aku adalah anak tunggal yang ditinggalkan oleh ayah, sehingga aku adalah satu-satunya harapan Ibuku untuk memerbaiki kelangsungan hidup. Jadi aku tak punya waktu untuk memikirkan masalah percintaan anak remaja yang mulai tenar di masaku.
Sayangnya belum sempat aku menunjukkan keberhasilanku pada Ibuku, beliau telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dengan bermodal peninggalan catatan harian Ibuku, aku menemukan alamat ayahku dan keluarganya di Indonesia. Segera kutinggalkan Seoul kemudian menuju Jakarta dengan uang hasil part time-ku selama kuliah.
Di Jakarta, Richard yang kuketahui adalah kakakku menerimaku dengan tangan terbuka tanpa mempermasalahkan statusku. Beda dengan ibu dan kakak perempuannya yang memandangku seakan aku adalah virus yang akan menularinya jika tidak menjauh dariku. Namun hal itu kuanggap wajar karena memang kuakui bahwa aku adalah anak hasil dari perselingkuhan ayahnya.
Selanjutnya kujalani hari dan mulai menikmati pekerjaanku sebagai photographer berkat bantuan Richard. Dan di sinilah aku bertemu dengan Becca yang bekerja sebagai freelance di kantor tempatku bekerja. Kedekatanku dengannya mulai terjalin hingga tumbuh benih-benih cinta yang sulit kuabaikan. Hidupku terasa lengkap dengan adanya Becca di sampingku.
Kini semua angan itu telah kukubur rapat-rapat. Melihat Becca tersiksa dengan perasaanya, membuatku semakin pedih. Aku harus merelakan sesuatu yang memang dasarnya bukan milikku.
Kulangkahkan kakiku menjauh dari mereka, meninggalkan Becca yang masih terisak dipelukan Richard. Kutahan sekuat mungkin agar tidak berbalik arah, karena jika sampai itu terjadi, aku tidak dapat menjamin untuk tidak menarik Becca lalu melarikannya sejauh mungkin hingga Richard tak dapat memutuskan tali cinta kami.
Inikah akhir kisahku? Cinta pertamaku tak dapat kuraih, tak dapat kupertahankan untuk berada di sisiku. Perih, lebih perih dibandingkan kenyataan yang harus kuterima bahwa aku lahir sebagai anak haram. Lebih pedih saat kutahu bahwa ayahku meninggalkanku dan memilih bersama keluarganya kembali. Oh, apakah semua orang memang selalu berpihak pada Richard? Baik itu ayah maupun Becca?
  Aku menyusuri lorong apartemen dengan langkah gontai, berusaha agar tidak ambruk di lantai. Aku harus mencoba terbiasa tanpa Becca di sekitarku. Ya, dengan terbiasa  aku akan bisa melupakannya. Tiba-tiba aku sangsi dengan tekadku ini. Bisakah aku hidup tanpa tawa Becca? Tanpa sikap malu-malunya yang membuatku ingin terus menggodanya? Ya Tuhan, aku benar-benar bisa mati.
Oppa” kudengar suara merdu itu. Tidak, tidak mungkin Becca ada di belakangku. Tidak mungkin Becca mengejarku dengan mengabaikan Richard. Itu tidak mudah baginya.
Oppa, kajima!”Aku memalingkan wajah ke sumber suara itu. Benar, Becca ada di sana, tak jauh dari tempatku berdiri. Aku hanya bisa mematung menatapnya. Dapat kurasakan ketidaksabaran Becca karena detik berikutnya dia berlari ke arahku lalu memelukku erat.
Oppa, kajima! kajima!” bahunya bergetar di pelukanku.
Mwohaneungoya?” tanyaku tak mengerti dengan situasi ini.
Oppa, aku tidak ingin kau pergi, aku ingin kau tetap ada di sisiku, bersamaku seperti dulu. Aku mohon jangan pergi!” katanya dengan terburu-buru.
Nongdamhajima! Bagaimana dengan hyeong?” tanyaku yang masih diliputi dengan kebingungan. Bagaimana mungkin Richard rela melepaskan Becca begitu saja?
“ Aku tidak bercanda oppa. Richard sendiri yang memintaku melakukan ini.”
“ Tapi kenapa? Maksudku, aku tahu kau mencintai Richard. Dan Richard mencintaimu. Mata kalian dapat menjelaskannya.” tanyaku bingung.
“ Tapi aku memilihmu oppa. Aku menyadari kalau aku membutuhkamu lebih dari apapun. Meskipun aku memang masih mencintai Richard, tapi aku juga tak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu, teramat mencintaimu. Aku tidak tahu alasan logis lain selain dari ini. Jadi kumohon, berhenti menanyakan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku mencintaimu oppa, hanya itu alasanku.” Jelasnya dengan tatapan sungguh-sungguh.
“ Kau mencintaiku?” aku melepaskan pelukanku lalu memandangnya meminta kepastian.
“ Ya, aku mencintaimu.” Matanya menatapku lekat-lekat.
Hanboman!” pintaku
Saranghae, saranghae oppa.” Segera kutarik Becca lalu kupeluk kembali. Tak akan kulepas meskipun dia memintaku.
“ Dia lebih mencintaimu” kulihat Richard yang berdiri di belakangku. Mungkinkah dia mendengar semuanya?
“ Aku mencintai Becca, tapi aku tak ingin memaksanya untuk hidup bersamaku  jika dia memang tak bisa.” Hanya itu yang dapat Richard katakan. Aku tahu dia sangat kecewa dengan ending seperti ini, tapi aku tak akan melepas Becca lagi untuknya.
Hyeong, terima kasih.” kataku dengan tulus.
Richard hanya menatapku dengan ekspresinya yang datar, lalu meninggalkanku dan Becca yang masih memelukku. Maaf hyeong, aku tahu perasaanmu terluka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Becca juga sangat berharga bagiku.

TAMAT
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar