Conan

Rabu, 19 Desember 2012

Dongeng Cinderella versi Korea


Suatu hari di suatu tempat di Korea, dimana makhluk-makhluk ajaib bernama seperti nama sayuran dijumpai, hiduplah seorang anak bernama ‘Bunga pear’. Bunga Pear ini cantik sekali seperti pohon pear yang di tanam pada perayaan ulang tahunnya. Di suatu siang di musim dingin, saat ranting-ranting pohon pear belum bersemi, ibu Bunga Pear meninggal dunia,
“Aigoo1!” seorang lelaki tua meratapi, “Siapa yang akan menjaga Bunga Pear sekarang?”

Ia kemudian meletakkan topi koboinya dan pergi ke pencari jodoh (*semacam mak coblang) di desa. Si mak comblang ini mengenal seorang janda yang memiliki anak seumuran Bunga Pear.
“Peony2 akan menjadi saudara yang baik untuk Bunga Pear”
Saat Eomeoni3 dan Peony melihat kecantikan Bunga Pear, mereka sangat iri, Eomeoni membuat Bunga Pear kerja siang dan malam serta mencoba mencari-cari kesalahan.
Suatu hari, desa tersebut mengadakan festival. “Bunga Pear boleh pergi” ujar Eomeoni dengan mulut manis semanis gula, “Tetapi setelah ia menyiangi padi” sambungnya. Eomeoni memberikan sekeranjang lobak yang layu sebagai makan siangnya.
“Aku sangat berterima kasih, Ibu yang terhormat” ucap Bunga Pear.
Setibanya di ladang, Bunga Pear menjatuhkan keranjang dengan gelisah. Hamparan padi berdesir di belakangnya seperti danau hijau yang luas. Pernikahan saja membutuhkan beberapa minggu, “Siapa yang akan melakukan hal sebanyak ini?” ia menangis.
“DO-O-O-O” Seekor sapi melenguh muncul dari rumput yang tinggi. Sapi itu mulai menyiangi, bergerak melalui barisan padi secepat angin. Sebelum Bunga Pear dapat berkata “Ohhh”, sapi dan rumput-rumput liar menghilang. Keseluruhan sawah bebas dari rumput, bahkan satu batang padipun tidak ada yang terinjak-injak. Bunga Pear menangkupkan tangannya ke bibirnya dan berteriak “ Beribu-ribu terima kasih”, Sapi itupun pergi menuju kaki langit.

festival desa melalui jalan yang berliku dan kasar berkerikil. Ia hanya tergelincir saat menendang batu dengan sandal jeraminya. Saat itulah terdengar panggilan:
“Mingir! Beri jalan untuk Hakim!”
Tampak empat orang memanggul tandu dan berjalan di depannya. Di dalam tandu duduk seorang bagsawan muda mengenakan jubah mewah dan batu permata di atas rambutnya. Karena bingung, Bunga Pear mencoba menyeimbangkan badan dengan posisi kaki berdiri seperti burung bangau, memegang sandal jeraminya. Pipinya menjadi kemerahan dan ia melompat ke belakang pohon yang tumbuh di sisi sungai. Seketika, sendalnya jatuh ke dalam air dan dengan bodohnya ia mencoba mengambilnya.
“Berhenti!” perintah seseorang yang ada di dalam tandu.
Orang itu memanggil para pengawalnya, tetapi Bunga Pear mengira ialah yang di panggil. Karena ketakutan ia melarikan diri. Sang Bangsawan melihat Bunga Pear dan terpesona dengan kecantikannya. Kemudian ia meminta orang-orangnya untuk mengambil sendal dari sungai dan membawanya ke desa. Saat di festival, Bunga Pear kehilangan sendalnya. Ia menonton seseorang yang beraksi dengan berjalan di atas tali yang direntangkan sampai pusing. Lalu ia tertarik dengan flute dan drum. Tiba-tiba seseorang menyapanya.
“Apa yang kau lakukan disini?” bentak ibu tirinya.

“Aku di sini karena sapi hitam sudah memakan semua rumput di sawah” jawab Bunga Pear.
“Benarkah itu sapi hitam! Kau berbohong…” sebelum Eomeoni menyelesaikan kalimatnya, ia dikejutkan oleh teriakan dari pengawal Hakim.
“Dengarkan!!” Mereka berteriak sambil membawa tandu di keramaian, “Kami mencari gadis dengan satu sendal!”
“Itu Bunga Pear!” Peony menunjuk kakaknya, “Ia kehilangan satu sendalnya”.
Para pengawal kemudian menurunkan tandu di sebelah Bunga Pear, dan Hakim itu memegang sendal.
“Hakim datang untuk menangkapmu” olok si ibu tiri, “Kau pasti melakukan kesalahan dan kau harus melayani dengan baik”
“Ia berhak untuk menerimaku sebagai suaminya”, sang Hakim berkata dengan suara yang lembuut, ”sendal ini sudah membawakku kepadanya”

Hakim itu berbalik ke Bunga Pear dan berkata, “Aku sangat beruntung jika seseorang yang mengenakan sendal ini menjadi pengantinku”.
Bunga Pear tersenyum, sangat malu untuk mengatakan sesuatu dan ia memasukkan sendal itu ke kakinya. Hakim membawa Bunga Pear masuk ke dalam tandu dan para pengawalnya membawa mereka berdua menjauh dari keramaian. Eomeoni dan Peony saling berpandangan tak dapat bicara serta merasa bahwa ini adalah mimpi buruk. Saat kembali ke rumah, banyak sekali pohon Pear yang berbunga “Ehwa! Ehwa4 “ seeokor burung pipit berkicau di dahan pohon. Dalam bahasa Korea Ehwa berarti bunga pear.

CR : haerajjang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar