Conan

Rabu, 12 Desember 2012

Chapter 520. Killers Not Dead [Text Version]


..........

Keadaan sudah kembali tenang. Soul Society sudah mulai kembali memapahkan kakinya, mencoba berdiri setelah kepalanya terpotong oleh lawan. Tiada waktu untuk menoleh ke belakang saat i
ni. Masih banyak halangan yang harus dilawan di depan sana. Tak ada waktu untuk menangisi sesuatu yang telah pergi. Namun, masih ada waktu untuk membalaskan kepergian mereka.

Titah Sang Reiou untuk membawa Ichigo, Renji, Byakuya dan Rukia ke istana sang raja roh telah terlaksana. Di sana, putra Kurosaki ini mulai menyembuhkan dirinya dari luka bersama Tenjirou, salah satu anggota Royal Guard. Di Soul Society, keadaan mulai tenang, terlihat semuanya sudah bisa mengendalikan emosi mereka.

Di Kantor Hachibantai Taichou/ Ruang Komandan Divisi 8
Suaraketukan pintu kayu terdengar cukup keras. Namun, tak terdengar suara balasan dari dalam ruangan. Nanao telah berulang kali mengetuk daun pintu kayu sambil memanggil sang taichou di dalam. Nihil, teriakannyapun tak dijawab seolah di dalam memang tak ada seorang lain. Namun, Nanao yakin taichounya masih berada di sana, tapi dia tak yakin apa alasan sang taichou hingga tak menjawab panggilannya.

"Aku masuk, taichou. Permisi." Akhirnya dia menyerah, tersirat sesaat guratan kesal di wajahnya. Dia mendorong pintu di depannya dengan cukup pelan, hingga tak terdengar suara riukan pintu kayu itu. Pintunya tak dikunci hingga dengan dorongan pelanpun sudah cukup bagi perempuan ini untuk melihat sosok taichou yang berada di depan sana. "Kenapa anda tak men--"

Ucapannya terhenti disaat sang taichou, Kyoraku Shunsui menjawab sapaannya tadi. "Nanao-chan." Ucapan Kyouraku begitu pelan, tersirat nada kesedihan di balik ucapannya. "Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." Nanao yang berada dibelakangnya tersentak, langsung menghentikan langkah kakinya. Dia tak mengerti, mengapa tiba-tiba taichounya berkata seperti itu. Tak seperti seorang Kyouraku yang dia kenal, seorang Kyouraku yang ceria, yang selalu mengguratkan senyum disetiap dirinya berhadapan dengan sosok perempuan ini.

Nanao hanya termenung, terdiam dengan ketidakmengertiannya. Mulutnya hanya berucap sebatas kata "eh" saat mendengar ucapn aneh Taichounya. Namun, Kyouraku punya alasan tersendiri dengan ucapannya. Tangannya masih menggenggam sebuah lemparan surat. Sebuah surat yang tertulis untuk seorang Kyouraku Jirou Souzousa Shunsui. Iya, nama panjang seorang taichou senior itu tertulis lengkap di sana. Sebuah pesan singkat tertulis disamping nama cukup panjang tersebut "Nama yang ditulis pada lembar di samping ditunjuk sebagai soutaichou Gotei 13 dan taichou Divisi 1"

"Maaf!" Ucap sang calon Soutaichou itu di tengah keheningan diantara dua orang ini.
.
..
...
Suasana kembali ke dimensi lain, dimensi di atas Soul Society tempat sang raja roh mulai membuka kedua kelopam matanya. Tempat Ichigo dan yang lain dibawa. Tempat kediaman kelima Royal Guard, sang pendamping Reiou.

Onsen Kirin / Pemandian Air Panas Kirin
"Sembilan satuuuu, Sembilan duaaaa, Sembilan tigaaaa!" Teriak dua orang anak buah Tenjirou mencoba menenggelamkan Ichigo ke dalam air panas pemulih itu. Ichigo yang kehabisan nafas mencoba berontak sekuat tenaga untuk mengeluarkan kepalanya dari dalam air. " Sembilan- AGH" Sebuah tendangan berhasil menghantam salah satu wajah dari kedua pemuda itu. Ichigo tersengal-sengal kehabisan nafas.

"Gagal, dasar tolol!! Padahal anak kecil juga bisa!!" Ucap Tenjirou yang duduk santai tak jauh dari mereka, mencoba untuk menyindir pemuda kepala orange itu, sepertinya. "Gak pernah dibilangin waktu masih bocah ya?! Kalau berendam, harus diam di air dan menghitung sampai 100!! Itu saja gak bisa?!"

"Berendamnya cuma sampai dagu!!" Balas ichigo kesal. Dadanya masih kembang kempis mencoba mengatur nafanya yang hilang. "Mana ada orang tua yang menyuruh anaknya tenggelam dan menghitung sampai 100?!"

"Berisik!" Ucapan Tenjirou menimpal. "Kazuo! Kazuhiro!! Tenggelamkan dia lagi!" Perintahnya kejam. Tangan Tenjirou masih memegang pipa yang sesalu berada dalam gigitannya. Kedua pemuda yang berpakaian aneh itu kembali mencoba menenggelamkan Ichigo setelah mengiyakan perintah aniki-nya. Ichigo kembali melawan, mencoba berontak. Namun, tenaganya masih kurang kuat untuk melawan dua orang sekaligus hingga tubuhnya perlahan kembali menyentuh air panas itu.

"Sebentar." Perintah kembali sang Tenjirou. Kedua kakinya melangkah pelan ke arah ketiga orang yang berdiri heran di dekatnya. Lalu, tiba-tiba sebuah pukulan keras melayang tepat mengenai dada Ichigo, membuat shinigami pengganti itu terlempar cukup jauh hingga keluar kolam pemandian.

"Apa-apaan barusan?!" Marah, tentu saja. Menerima pukulan tiba-tiba seperti itu, membuat dirinya begitu emosi. Namun, Tenjirou di depannya hanya menatap dengan sedikit senyuman yang samar, sambil menunjukkan perban milik Ichigo yang sekarang sudah berada di genggamannya.

"Kau sudah sembuh." Ucapnya santai sambil menunjuk pada dada Ichigo. "Kalau belum, harusnya kau mati barusan. Lihat. Lukamu juga sudah hilang." Ichigo hanya terheran mendapati tubuhnya yang sudah kembali bersih. Tak ada lagi bekas luka sayat, memar, ataupun lainnya yang tertinggal di tubuhnya. Kulitnya terlihat begitu bersih, mengkilat. "Tujuanmu sudah selesai di sini. Kau akan kukirim ke tempat berikutnya."

"Tempat berikutnya?" Tanya Ichigo masih tidak mengerti.

" Tunggu!" Sebuah teriakan berhasil membuah kedua kepala itu menoleh. Sesosok tubuh penuh dengan perban telah berdiri di dekat mereka. tak akan ada yang bisa mengenali identitasnya, bila saja dia tak mempunyai rambut merah panjang sebagai ciri khasnya. Iya, Abarai Renji, sosok inilah yang berteriak, seolah mencegah kepergian Ichigo. "Aku juga ikut!"

" Renji! Kau masih... " Tolak Ichigo, namun ucapannya langsung terpotong setelah melihat apa yang dilakukan oleh Tenjirou. Sang Royal Guard ini langsung memukul tubuh Renji, sama seperti apa yang telah dia lakukan pada ichigo sebelumnya. Pukulannya begitu keras hingga membuat air panas di pemandian itu berhamburan karena hempasa tenaganya. Tapi, Renji masih di sana, berdiri dalam diamnya. Tenjirou begitu terkejut, walaupun matanya sempat melihat tubuh Renji yang gemetar menerima pukulannya secara langsung seperti itu. Namun, sebuah rasa kagum sedikit dia rasakan seraya menunjukkan senyumannya yang tidak utuh.

"Bagaimana? Aku tidak terlempar." Ucap renji bangga, dengan sekuat tenaga menahan kakinya yang gemetar untuk tetap kuat menahan tubuh lemahnya.

".Boleh juga, kalau kau bisa menahan pukulanku, berarti kau tak apa-apa. Sana pergi!" Ucap Tenjirou setelah cukup lama terdiam, sepertinya masih berpikir akan keputusannya ini.

"Ah... Baik!" Bibirnya menyimpul menciptakan semuah senyuman lebar. Terlalu senang, agaknya begitu.

..

Setelah semua persiapan selesai. Akhirnya keduanya akan beranjak ke tempat selanjutnya. Masih belum tentu kemana tujuan mereka, mungkin ke kota milik Hikifune, mungkin ke tempat Shuutara, atau ke tempat Bonze... mungkin ke yang satu lagi. Tak ada yang tahu, yang pasti mereka berdua sekarang berdiri di sebuah lingkarang, sama seperti saat Ichigo dilempar ke tempat ini.

"Apa cuma ini caranya berpergian di sini?!" Belum sempat dia protes, Kazuo sudah memukul dengan palu dam membuat keduanya terlempar bersama denga teriakan histeris mereka. "WAAAAAAAAH"

"Mereka sudah pergi..." Ucap Tenjioru memastikan sambil menatap tempat mereka melempar Ichigo. "Kazuo! Kazuhiro! Barusan pasti menyulitkan bagi kalian. Kalian boleh melepas kimono yang basah itu!"

Setelah mengiyakan, keduanya langsung melempas baju aneh yang dipakai mereka. Mereka terlihat begitu senang setelah melewati semua ini, saat baju mereka dilempar ke arah air panas, kain itu langsung terbakar, hangus tak bersisa. Begitu juga dengan tubuh keduanya, terlihat luka bakar yang cukup serius dipunggung mereka.

"Ya ampun...Kalau kita tak pakai pakaian pelindung spesial itu pasti kita meledak gara-gara air "penyembuh super" ini... Mereka benar-benar luar biasa bisa telanjang begitu berendam di dalam Neraka Tengkorak dan Kolam Neraka Berdarah milik Tenjirou-sama..." Ucap Kazuo heran.

"Mereka benar-benar luar biasa..." Timpal Kazuhirou

"Ya..." Ucap tenjirou menyetujui. "Mereka sebenarnya melebihi dugaanku. Terutama si Ichigo." Terlihat tangan Tenjirou yang berada di dalam air panas, terluka cukup serius, akibat setelah memukul Ichigo, agaknya. "Bocah itu waktu dia kuhajar, Dia melawan dan meretakkan jariku."

Kedua orang di depannya hanya terkaget melihat tangan tuannya yang terluka.

"Padahal dulu aku disebut "Shunsoku Tenjirou" karena kecepatanku. Dan menurutku kemampuanku belum tumpul. Artinya, bocah itu hebat juga. Aku bisa mengerti kenapa Reiou tertarik padanya."
Shunsoku Tenjirou = Tenjirou si Kecepatan Kilat
...
..
.
Kembali lagi ke dimensi yang lain. Dimensi yang berada di bawah istana raja roh. Dimensi yang ketuai oleh para orang tua, Central 46.

Chamber 46
Chamber 46 adalah tempat para Central 46 yang selalu membuat keputusan. Terdiri dari 40 orang bijak, dan 6 orang hakim. Keadaan di dalam sama memang seperti ini, atmosfir yang selalu mencekam di setiap keputusan yang mereka buat. Seolah, tiada shinigami yang ingin berhadapan langsung dengan mereka. Walaupun anggota mereka telah berubah karena insiden yang dilakukan Aizen, namun, mereka tak pernah mengendorkan peraturan mereka, sedikitpun.

Sang calon Soutaichou telah berada di dalam sana, di bawah, dikelilingi oleh para tetua dengan wajah yang terhalangi oleh papan di depan wajah mereka. Namun yakinlah bila mereka telah memasang wajah paling menakutkan dibalik semua itu. Kyouraku, masih terlihat begitu santai di sana. Tak terlihat sama sekali ketakutan di wajahnya, bahkan setelah mengajukan permintaan yang membuat para tetua ini berteriak cukup kencang.

"Dua fukutaichou?!"

Wajah Kyouraku menunduk, mencoba untuk menghormati 46 orang terhormat ini. "Okikiba-daisanzeki yang akan bertanggung jawab masalah Seireitei, dan Ise-fukutaichou yang mengikutiku. Mereka tahu cara kerja masing-masing. Mereka berdua akan jadi asistenku."

"Kau tak bisa berbuat semaumu...!" protes salah satu tetua.

"Setiap taichou punya hak untuk mengangkat dan menurunkan jabatan fukutaichou divisinya" Jawab Kyouraku santai. "Kalian yang menentukan itu, 'kan?"

Para tetua itu tak ada yang menjawab. Tak satupun dari mereka yang angkat bicara. Seolah mereka tak bisa melawan hukum yang mereka buat sendiri. Bila tak ada papan tipis yang menghalangi wajah mereka, pasti terlihat bagaimana mereka menggertakkan gigi mereka saat itu.

"Kalau begitu, boleh aku menjalankan tugasku? Sebagai seorang soutaichou." Ucap kyouraku kembali. Mata Kyouraku begitu dalam menghadapi orang-orang adil ini. "Aku akan mengajari Zaraki Kenpachi Zanjutsu, seni membunuh." Tak ada nada bercanda dalam perkataannya. Kyouraku benar-benar serius dengan ucapannya. Dia tahu, seharusnya, dimana dirinya menempatkan dirinya. Dia tahu bila yang dihadapinya adalah para tetua yang menjadi ayah bagi Soul Society.

"Apa...?!" Teriak salah satu dari 46 orang itu secara langsung. Tak terima, sepertinya begitu. Sebuah pukulan pada meja tiba-tiba terdengar. Tak ada dari mereka yang setuju dengan ide gila sang Soutaichou yang baru beberapa menit menjabat itu.

Kyouraku sendiri tak ambil pusing dengan semua itu. Dia tahu apa yang ada dipikirannya. Dia telah kehilangan mata kanannya, dia tak ingin kehilangan hal lain yang lebih berharga untuknya. " Kuchiki-taichou dan yang lainnya pergi ke Reioukyuu, tapi kita tak tahu apa mereka akan kembali hidup-hidup. Kekuatan tempur Zaraki-taichou sangatlah penting. Bukan hal bagus kalau dia dibiarkan seperti sekarang."

" Tidak!" Para tetua masih tetap pada pendirian mereka. "Bila dia dibiarkan lebih kuat dari sekarang, mustahil menghentikannya andai dia memberontak!! Apa kau lupa kalau Genryuusai berhenti mengajarinya setelah satu hari?!"

Kyouraku menghela nafas, terlihat cukup kesal dengan semua ini. "Kalau begitu bagaimana?Soul Society yang sekarang tak akan bisa bertahan dari serangan lain." Tak ada yang berubah dengan nada bicaranya. "Atau mungkin... Kalian bisa melindungi Soul Society?"

Hening....

Tak ada jawaban yang terlempar, tak ada teriak yang begitu keras, tak ada ketukan meja yang memecah ruangan. Tak ada... Mulut mereka bungkam, seolah para tetua ini sudah kehilangan pita suara untuk berbunyi. Mereka... tak tahu harus menjawab apa...

Hening....

"Sepertinya aku sudah memperoleh persetujuan kalian." Sedikit kelegaan tersirat dibalik Ucapan Kyouraku. Senyum tipis tercipta walau tak tampak. Dia masih sadar dengan siapa dia berhadapan, dengan para tetua yang menggerakkan Soul Society, pemegang penuh pemerintahan Soul Society. " Masuklah. Zaraki-taichou kuserahkan pada anda, Unohana-taichou."

Yonbantai taichou ini menapakkan kakinya memasuki ruangan yang begitu mencekam. Tak terlihat seperti biasanya, wajah sang Yonbantai Taichou ini terlihat tak kalah mencema dengan suasana di sana. Tak ada senyuman yang biasanya tercipta diantara dua bibirnya. Sebuah tatapan tajam, tersorot dari kedua matanya.

"Bukan, "Kenpachi" generasi pertama, Unohana Yachiru." Ucap Kyoraku membenarkan.

Kenpachi generasi pertama, tak ada yang menyangka bila Yonbantai taichou inilah adalah seorang Yachiru yang begitu dikagumi oleh Zaraki. Tak ada yang menyangka bila shinigami terkuat pada masanya ini masih hidup, masih berdiri di tengah-tengan Soul Society.

By : Bleach Indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar