Conan

Kamis, 13 Desember 2012

Oppa adalah Milikku





Karya Noviria Melati Kent dengan judul Oppa adalah Milikku (based on SeoulMate)

Dia melayang begitu cepat melewati setiap tingkungan yang ada di hanok menuju sebuah ruangan. Tanpa mengetok pintu atau mengucapkan salam, dia segera masuk. Seorang wanita yang sedang membaca koran segera menengadahkan kepalanya kearah datangnya hantu itu.
            “Dong-oppa menghilang. Aku sudah mencarinya disekeliling hanok, namun, dia tidak ada. Pasti dia pergi lagi dengan hantu Indonesia itu. Kita harus bagaimana?” ucap hantu itu langsung. Dia adalah Arang.
            “Bagaimana apanya? Biarkan saja mereka,” jawab wanita itu, Sun.
            “Tidak bisa! Huh… ini semua karena Siwon. Bagaimana bisa dia menerima hantu baru? Padahal Jang baru pergi 3 minggu yang lalu. Kita semua belum selesai berduka…”
            “Yaa! Siapa yang kamu maksud berduka? Jang tidak pergi menuju cahaya, dia hanya kembali ketubuh asalnya,” teriak Sun memotong perkataan Arang. Mendengar teriakkan Sun, cukup membuat Arang terdiam. Dengan segera, Arang melayang agak jauh dari sisi Sun. Tiba-tiba Sun berdiri dari kursinya, meraih sebuah kertas di atas mejanya dan berjalan menuju pintu.
            “Ayo, kita pergi. Kita harus menjalankan proposal dari klien,” ujar Sun ke arah Arang dan keluar dari kamar.
            “Lagi? Kamu yakin? Ini sudah proposal ke sepuluh yang kita jalankan untuk seminggu terakhir,” teriak Arang. Tidak ada tanggapan. Akhirnya, Arang mengikuti Sun. Sebelum keluar dari kamar Sun, Arang sempat melirik koran yang dibaca Sun tadi. “Shin Ji Woo dinyatakan Sehat Oleh Dokter.”
            Sun dan Arang adalah salah satu anggota dari organisasi “Seoulmate”. Sebuah organisasi penyalur  hantu yang diketuai oleh Siwon. Di dalam “Seoulmate” terdapat istilah soul dan mate. Soul untuk para hantu dan mate untuk orang yang menjaga mereka. Jang adalah soul yang dimiliki Sun dulu, namun sekarang dia telah kembali ketubuh aslinya, Shin Ji Woo. Sedangkan, Dong-oppa adalah salah satu pendiri seoulmate namun kini sudah menjadi hantu karena sebuah kecelakaan. Namun, tidak lama setelah kepergian Jang, Siwon kembali dengan seorang hantu dari Indonesia, Anggun. Hantu itu cantik seperti Suzy-Miss A. Hantu itu juga dekat dengan Dong-oppa karena sama-sama warga Indonesia. Hal itulah yang membuat Arang merasa tersaingi dengan kehadiran hantu itu.
***
            “Won-ah, kenapa kami tidak dapat proposal lagi? Sedangkan Jun dan Miju –para mate lainnya- mendapat banyak proposal,” protes Sun kepada Siwon. Sudah dua hari ini, Sun tidak mendapatkan proposal dan jadwal guide di Traveliyagi.
            “Kamu sudah terlalu lelah. Sudah beberapa minggu terakhir ini, kamu mengambil terlalu banyak proposal.”
            “Aku tidak lelah. Yang kami kerjakan hanya proposal kecil dengan label D. Jadi, beri kami proposal lagi.”
            “Tidak. Kamu mungkin tidak lelah. Tapi, bagaimana dengan Arang? Soul juga perlu istirahat, tidak hanya mate,” ucap Siwon sambil menatap Arang yang melayang dibelakang Sun. Arang hanya mengangguk-anggukkan kepala. Sun segera membalikkan kepalanya dan dengan segera Arang memasang muka memelas. Tidak ada pilihan bagi Sun. Dia juga merasa kasihan pada Arang yang harus terus mengikutinya.
            “Ya, baiklah. Untuk kali ini, aku akan mengalah. Tetapi besok, aku menginginkan sudah ada proposal untukku. Tidak ada alasan lagi,” ucap Sun sambil keluar dari ruangan Siwon. Dengan segera, Arang mengikuti Sun, sebelum keluar Arang mengedipkan sebelah matanya pada Siwon dengan manja dan dibalas Siwon dengan senyuman.
            Setelah kepergian Sun, Siwon menghelas nafas. Siwon tau, bahwa Sun mengambil begitu banyak proposal karena ingin melupakan kesedihannya ditinggal Jang. Walaupun Jang telah berjanji sebelumnya pada Sun bahwa dia akan kembali kepadanya dengan tubuh Shin Ji Woo, namun itu tidak bisa membuat hati Sun merasa tenang. Sedangkan, Arang sendiri, Siwon yakin dia tidak merasa lelah. Selain karena dia adalah hantu tua yang tentu mempunyai energi yang lebih besar tetapi juga karena proposal yang dikerjakan adalah proposal D yang tidak memakai banyak tenaga. Namun, tetap saja, Arang membutuhkan waktu untuk istirahat, belum lagi jika dia dimarahi Sun. Biasanya, jika Arang dimarahi Sun, maka Arang dapat berlindung dibelakang Dong. Tetapi sekarang pun, Dong sedang sibuk membantu Anggun-hantu Indonesia- untuk menemukan ayahnya agar dia dapat menuju cahaya. Karena itulah, Siwon harus bertindak untuk membantu Sun dan Arang.
            “Ayolah, Sun. Aku ingin pergi ke Insadong. Lagipula, hari ini adalah hari liburku,”  rengek Arang pada Sun setelah mereka tiba dikamar Sun.
            “Tidak! Hari ini juga adalah hari liburku dan aku ingin beristirahat. Kamu kan bisa pergi sendiri kesana, hanya dengan menghilang ‘ting’ dan kamu langsung tiba di Insadong. Tidak perlu mengajakku.”
            “Aku mohon. Aku butuh guide yang akan memanduku. Walaupun selama bertahun-tahun aku tinggal dikedai teh didaerah Insadong, namun aku belum pernah berjalan-jalan disekitar sana. Aku janji tidak akan membuat masalah,” ucap Arang sambil menyatukan kedua tangannya didepan dada dan memasang muka memelas.  
            “Yaa! Sudah kukatakan aku tidak mau. Kenapa kamu tidak mengajak Siwon saja. Aku sekarang lelah dan mau istirahat.”
            “Ayolah, Sun. Tidak mungkin aku mengajak Siwon. Dia itu lelaki dan aku wanita, jadi dia tidak akan mengerti apa kemauanku nanti. Lagipula, aku tau kamu tidak lelah, bukankah tadi kamu baru meminta pekerjaan pada Siwon. Yah, walaupun dia menolak untuk memberimu pekerjaan. Tetapi, kamu dapat menjadi guide bagiku, anggap saja itu sebagai suatu pekerjaan. Oke? Kamu mau, kan?”
            “Yaa! Yaa! Yaa! Cukup. Baiklah, aku akan menemanimu, tetapi kamu tidak boleh meminta bantuan Siwon lagi. Aku tau, kamu pasti yang menyuruh Siwon untuk tidak memberiku pekerjaan agar kamu bisa istirahat. Baiklah, kita pergi sekarang!” ujar Sun sambil meraih tas selempangnya dan keluar. Arang tersenyum senang, walaupun Sun berbicara ketus, namun sebenarnya Sun tulus menemaninya.
***
            “Jwiseonghaeyo,” ucap Arang sambil menembus tubuh orang-orang yang ada didepannya. Sun hanya memandang aneh pada Arang. Untuk apa Arang mengucapkan kata permisi pada orang-orang jika dia dapat menembus tubuh mereka? Seharusnya yang mengucapkan kata itu adalah dirinya, Sun. Namun, Sun tidak peduli. “Arang! Sekarang kita mau kemana?” ucap Sun agak keras kepada Arang. Pasalnya, sekarang mereka sedang berada di lautan manusia Insadong. Mendengar pertanyaan Sun, beberapa orang berhenti dan menatapnya sebentar. Mungkin, mereka merasa heran karena Sun berbicara ke arah mereka. “Ke Mokin Museum,” jawab Arang. Perjalanan ke Mokin Museum terasa sangat menyenangkan. Setidaknya itulah pendapat Arang. Sudah lama, Arang ingin pergi kesana, namun baru sekarang niatnya terlaksana.
            “Sun! Apa itu?” tanya Arang sambil menunjuk kesebuah lemari kaca transparan tanpa tutup yang menjulang didepannya.
            “Itu adalah mokin atau pria kayu. Di masa dinasti Joseon, sekitar abad ke-13 sampai ke-18, berfungsi sebagai…… ” hanya sampai disanalah perhatian Arang terhadap penjelasan Sun. Sekarang, perhatian Arang tertuju pada seorang hantu pria yang sedang berjalan bersama hantu wanita. Dong-oppa dan Anggun. Arang segera melayang mendekat pada mereka. Dia ingin mendengarkan pembicaraan mereka. Namun, percuma. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Bahasa Indonesia. Hatinya berdenyut sakit melihat kedekatan mereka. Dan hal itu, membuat Arang terkejut. Pasalnya, perasaan yang dirasakannya sekarang, sudah lama tidak dirasakannya. Mungkin sudah berabad-abad lalu, saat kekasihnya mengkhianati cintanya. Kini, Arang tidak bersemangat lagi untuk berjalan-jalan di daerah Insadong. Semangatnya telah menguap seiring dengan perasaannya yang kecewa melihat Dong-oppa bersama hantu wanita itu.
***
            Terdengar suara hentakan kaki di lantai hanok. Arang tahu itu adalah Sun. Arang juga tahu, sebentar lagi Sun akan memarahinya karena telah meninggalkannya sendiri di Mokin Museum. Akan tetapi, Arang tidak merasa takut ataupun menyesal. Saat ini, dikepalanya hanya ada peristiwa di Mokin Museum tadi.
            “Hey, ARANG!” teriak Sun ketika sudah sampai didepan kamarnya. Dibukanya pintu itu dengan kasar dan Sun dapat melihat Arang yang sedang duduk diatas tempat tidurnya. “Kenapa kamu meninggalkan sendiri disana? Aku mencarimu kemana-mana seperti orang gila. Dan sekarang, kamu lagi duduk dikamar dengan santai. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Aku sudah menuruti kemauanmu. Yaa! Jawab pertanyaanku. Kamu sudah membuatku susah…”
            “Diam. Aku bilang berhenti. Aku lelah mendengar suaramu setiap hari yang memarahiku. Apa kamu tidak bisa diam?” teriak Arang pada Sun. Setelah meneriaki Sun, Arang segera menghilang dari sana. Sedangkan Sun masih syok setelah diteriaki Arang. Setelah kesadarannya pulih, Sun segera memanggil Arang. Dia tahu, bahwa sepertinya Arang sedang memiliki masalah yang berat karena tidak biasanya Arang melawan Sun. Namun, yang keluar dari mulut Sun adalah : “Arang! Kembali! Aku belum selesai bicara.” Setelah mengucapkan hal itu, Sun merasa menyesal, karena yang diucapkannya seperti ingin memarahi Arang padahal bukan itu maksudnya. Sepanjang malam, Sun menunggu kedatangan Arang, namun Arang tidak juga kembali hingga akhirnya Sun tertidur.
            Arang melayang kesana-kemari di daerah Insadong. Dia mencari keberadaan Dong-oppa. Hampir dua jam pencariannya, hingga dia menemukan Dong-oppa masih dengan Anggun. Arang segera menghampiri mereka tidak peduli ketika itu mereka sedang berbicara pada seorang hantu tua. Yang Arang tahu, dia harus segera membawa Dong-oppa nya pergi atau dia harus merelakan Dong-oppa bersama hantu Indonesia itu. Segala macam alasan telah ia keluarkan agar Dong-oppa mau pergi bersamanya termasuk dengan menggunakan nama Sun. Namun, Dong-oppa tidak bergeming. Dan yang membuat hati Arang bertambah sakit adalah kata-kata Dong-oppa selanjutnya : “Arang-ah dapatkah kamu pergi sekarang. Kami masih harus pergi ketempat lain. Jika kamu butuh bantuan, kamu dapat meminta tolong pada yang lain. Mianhae, aku tidak dapat membantumu kali ini.” Kalimat yang terdengar seperti sebuah pengusiran bagi Arang. Dia segera melayang pergi meninggalkan mereka.
Keesokkan harinya…
            Sun terbangun karena merasa udara disekelilingnya terserap oleh suatu hal. Hantu. Mereka selalu datang dengan menghisap udara disekelilingnya. Sun segera membuka matanya, dilihatnya Arang telah duduk diatas meja belajarnya. Mukanya tidak bercahaya seperti biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arang? pikir Sun.
            “Kemana saja kamu semalam?” tanya Sun. Tidak ada jawaban. Arang hanya melayang kearah Sun dan meletakkan sebuah kertas di atas tempat tidurnya. Proposal. Ketika Arang mendekat, Sun baru melihat tatapan mata Arang yang kosong. Sun ingin bertanya, akan tetapi Arang telah menghilang.
***
            Sun menatap kecewa kepada Arang. Dia kira dengan mengajak Arang mengerjakan proposal, Arang akan merasa lebih baik. Namun, perkiraannya salah. Arang tidak kosentrasi dan terus melakukan kesalahan. Padahal, mereka telah sering menjalankan proposal ini dan tidak pernah ada kesalahan. Selain itu, Sun juga harus menahan rasa malunya pada sutradara Kim-Wo –klien- karena telah membuat syutingnya kacau. Oleh karena itulah, dengan segenap keberanian dan menahan rasa malu, Sun menghampiri sutradara Kim-Wo, memintanya untuk membiarkan mereka pulang lebih cepat. Awalnya, sutradara Kim-Wo marah. Namun, Sun terus memberikan alasan bahwa hantunya sedang sakit sehingga terus membuat kesalahan. Dengan menahan rasa marahnya, dia membiarkan Sun dan hantunya untuk pulang. Dengan segera, Sun menghampiri Arang. “Pekerjaan kita sudah selesai…” belum selesai Sun bicara, Arang telah menghilang. Sun hanya dapat menahan rasa kesal, kecewa, penasaran, dan prihatinnya pada Arang.
***
            Sun menatap heran pada Arang. Sudah seharian ini, dia tidak mendengar suara Arang. Padahal, biasanya dia selalu cerewet bercerita apa saja tentang Jang Geun Suk, Jang, Siwon, para seoulmate lainnya dan tentang Dong-oppa. Mengingat nama Dong-oppa membuat Sun sadar akan sesuatu. Apakah ini semua karena Dong-oppa? Pikir Sun.
            “Ya. Sekarang aku harus bagaimana?” tanya Arag balik. Apakah tadi aku baru saja menyuarakan isi pikiranku? pikir Sun. Dan sepertinya jawabannya adalah ‘iya.’
            “Apa yang terjadi pada Dong-oppa?”
            “Dia bersama hantu Indonesia itu. Mereka berbicara bahasa yang tidak aku mengerti. Mereka jalan-jalan ke Mokin Museum. Dan ketika aku pergi mengajak Dong-oppa pergi, dia tidak mau mengikutiku. Hantu Indonesia itu telah merebut oppa-ku. Dan sekarang aku harus bagimana, agar Dong-oppa mau kembali padaku?”
            “Kamu cemburu? Dong-oppa bukan milikmu,jadi untuk apa kamu mengkhawatirkannya? Biarkan saja mereka. Huh… aku kira ada masalah apa? Ternyata hanya masalah sepele,” ujar Sun. Dalam hati, Sun memarahi dirinya sendiri. Seharusnya dia membantu Arang, bukan berkata seperti itu.
            “Ya… ini memang konyol. Tidak seharusnya aku begini. Tetapi, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Aku merasa Dong-oppa adalah milikku. Dan aku merasa kehilangan ketika dia pergi bersama hantu lain. Oh, ia, bukankah kamu dekat dengan Dong-oppa? Kalau begitu, kamu harus membantuku.”
            “Tidak. Aku tidak mau. Itu masalahmu. Jadi kamu harus menyelesaikannya sendiri. Sekarang aku mau pergi dulu. Ada pekerjaan di Traveliyagi.” Melihat kepergian Sun, Arang mendengus kesal. “Dia tidak pernah memikirkanku. Padahal aku sudah banyak membantunya ketika dia bermasalah dengan Jang.”
            Sun berjalan-jalan disekitar daerah Insadong. Sebenarnya, tadi dia telah berbohong pada Arang. Tidak ada pekerjaan. Dia hanya tidak ingin Arang mengikutinya karena dia ingin bertemu dengan Don-oppa dan meminta penjelasan agar dia dapat membantu Arang. Bagaimanapun, Arang lah yang menghiburnya saat dia merasa sedih kehilangan Jang. Pada saat dia sedang berkeliling, dia melihat Dong dan Anggun. Sun mengikuti mereka, mereka melayang dari satu rumah ke rumah lainnya. Hingga akhirnya mereka memasuki rumah ke-10 dan tidak keluar-keluar. Sun menunggu selama 1 jam diluar. Dalam hati, Sun sebenarnya merasa khawatir karena bisa saja Dong-oppa dan Anggun menggunakan kekuatan hantunya dan menghilang pergi ketempat lain. Namun, itu tidak berlangsung lama karena beberapa menit kemudia mereka keluar. Sun merasa lega namun juga heran, mereka berpelukkan dan Anggun menangis. Namun, dia berusaha menahan rasa penasaran dan kecewanya melihat Dong-oppa. Tak berapa lama kemudian, mereka menghilang. Sun kembali menunggu namun mereka tidak kembali juga. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang ke hanok. Sebuah kejutan menunggunya, Dong-oppa menunggunya didepan hanok.
            “Arang masih marah padaku? Terakhir kali, aku bertemu dengannya, matanya terlihat sedih?”
            “Ya. Dia sangat marah padamu. Bagaimana bisa oppa lebih memilih hantu baru itu daripada Arang? Dan tadi aku melihat oppa berjalan bersama hantu itu di Insadong. Sebenarnya ada apa? Dan kemana hantu itu sekarang?” tanya Sun. Sun dapat melihat di belakang Dong-oppa ada Arang. Namun, dia lebih memilih pura-pura tidak tahu.
            “Maafkan aku. Hantu itu memerlukanku bantuanku. Dia datang ke Seoul untuk bertemu ayahnya yang tinggal didaerah Insadong, namun dalam perjalanan kesana dia mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat. Kemudian, aku dan Siwon menemukannya. Dia ingin menuju cahaya namun urusannya belum selesai. Dia tidak dapat berbahasa korea dan hanya dapat berbahasa Indonesia, jadi aku membantunya dengan menjadi penerjemahnya. Kami pergi bertanya pada hantu-hantu didaerah sana. Anggun tidak pernah bertemu dengan ayahnya lagi sejak umur 5 tahun. Oleh karena itu kamu kesulitan. Yang kami punya hanyalah namanya saja. Dan tadi siang adalah saat dia dapat bertemu dengan ayahnya. Sekarang dia telah pergi menuju cahaya. Dan sekarang, aku ingin menemui Arang. Namun, aku takut dia masih marah padaku? Aku harus bagaimana?”
            “Temui Arang dan jelaskan semuanya. Dia pasti mengerti,” ujar Sun sambil tersenyum. Dong-oppa yang ada didepannya tidak seperti Dong-oppa yang dia kenal. Tidak biasanya dia seperti ini, bingung bagaimana caranya meminta maaf. Sun tahu, sepertinya, Arang dan Dong-oppa saling menyukai. Namun, mereka belum sadar akan perasaanya. Sun segera masuk kedalam meninggalkan Dong-oppa yang masih berdiri didepan pintu Hanok. Dia harus memberikan waktu kepada Dong-oppa dan Arang untuk menyelesaikan permasalahannya.
            “Apa yang harus ku katakan agar Arang mau memaafkanku?” tanya Dong pada dirinya sendiri.
            “Katakan ‘Arang, mianhae’ maka aku akan memaafkan oppa. Dan satu lagi, oppa harus berjanji tidak akan meninggalkanku sendiri lagi. Tidak ada yang membelaku ketika aku dimarahi oleh Sun,” ucap Arang. Dong segera membalikkan badannya dan terkejut menyadari Arang yang ada dibelakangnya. Seulas senyum muncul di wajahnya. “Arang tidak marah lagi. Matanya telah kembali bersinar. Mata yang indah,” pikir Dong.
            “Arang, mianhae.”
            “Ya. Aku memaafkan oppa. Oppaneun naeggeoya (kakak adalah milikku).” Mendengar ucapan Arang, Dong tersenyum.

Tamat

Sedikit cerita tentang "Kenpachi"


Ini potongan dari Novel Spirit bla bla, scene saat Aizen ngomong bareng Azashirou. Dikit cuma yah, males soalnya *plak*

Di dalam penjara tingkat paling bawah. Di
mana sosok para pengkhianat, pemberontak Soul Society mendekam dalam kegelapan. Sousuke Aizen, keberadaan yang jauh dari atas permukaan Soul Society masih terlihat begitu tenang. Tubuhnya masih tersegel, namun bagian mata kanan dan mulutnya telah terlepas, entah bagaimana caranya. Dia tidak sendirian dalam kegelapan ini. Pemberontak sebelumnya, Souya Azashirou, sang Hachidaime Kenpachi juga berada di sana. Tak beda dengan Aizen, Kenpachi generasi kedelapan ini juga melakukan pengkhianatan besar pada Soul Society. Tapi, keberadaan di tempat seperti ini tak membuatkan buta akan informasi di atas sana. Dengan kemampuan bankainya, dia bisa bisa mengetahui segala apa saja yang terjadi di Soul Society, dia bisa melihat seolah mempunyai mata di langit sana, dia bisa mendengar seolah ada telinga dibawah tanah sana.

Keadaan di sana tak begitu gelap, sebenarnya. Karena Azashirou sedang membawa sebuah lampu dengan api yang menyala redup di tangannya. Uru Zakuro, berada yang tadi berada di sampingnya telah lenyap karena Azashirou tak mau pembicaraannya dengan Aizen diganggu, bahkan oleh zanpakutou sendiri. Wajah Aizen masih terlihat tenang, walaupun sangat sulit memastikan mimik wajah yang hampir separuhnya terbalut oleh segel.

"Aku tak ingin berbasa-basi. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ucap Azashirou akhirnya. "Kenapa kau menculi Inoue Orihime dan mengurungnya di Hueco Mundo. Kau tahu kau bisa membangkitkan Hougyoku dengan kekuatanmu sendiri. Atau, dia masih mempunyai kemampuan yang lain?!"

"Kau seharusnya sudah cukup tahu alasannya." Jawab Aizen santai. "Dan aku sudah membebaskannya setelah memperoleh apa yang kuinginkan. Kau tahu itu kan?" Aizen balik bertanya. Dirinya tetap tenang, memandang Azashirou yang tetap terdiam dengan senyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya.

"Jika kau tak suka basa-basi, kenapa kau tak tanyakan langsung pertanyaan yang satu itu, Kenpachi Azashirou?" Ucapannya begitu yakin, seolah dia bisa melihat hati Azashirou. "Kau tidak menanyakan hal itu karena kau lebih berhati-hati pada Inoue Orihime. Aku tahu kau ingin menanyakan sesuatu tentang laki-laki yang mendapatkan gelar Kenpachi itu. Bukan kah begitu, Kenpachi Azashirou?"

"Aku tak akan menyangkal. Tapi aku mulai berpikir, bagaimana bisa aku percaya pada ucapan seseorang yang bisa dikalahnya oleh Kurosaki Ichigo, yang juga bisa mengalahkan Espada di Hueco Mundo." Ucapan Azashirou tak kalah dingin dengan Aizen. "Aku tahu semuanya, sejak pertarungannya dengan Kurosaki Ichigo, tak seperti Kuchiki Byakuya yang selalu berlatih siang malam, Kenpachi Zaraki hanya berduel di markas divisinya"

Seolah dirinya telah termakan oleh perkataan Azashirou, Aizen mulai bicara tentang Zaraki. "Zaraki.... Memang, hal terbesar dengan keberaan Inoue Orihime di Hueco mundo adalah menjebak Zaraki di Hueco Mundo."

"Apa yang kau katakan ...?"

"Kau tak tahu bahwa Kurosaki ichigo pergi ke Hueco Mundo karena keputusannya sendiri, Aku bisa memastikan kalau Soul Society juga akan mengirimkan para taichou mereka. Dan seperti semua perkiraanku, mereka juga mengirim Zaraki diantara empat taichou itu. Dan memudahkanku untuk menjebak mereka di sana."

Mata Azashirou melebar, tak mengerti dengan semua ucapan Aizen. Dirinya seperti tak bisa membedakan apakah perkataan Aizen itu benar atau hanya untuk membingungkan dirinya.

"Aku akan mengatakannya terus terang. Dari semua taichou, aku telah memutuskan untuk tidak melawan Yamamoto Genryuusai Shihekuni dan Zaraki Kenpachi. Iya, mereka berdua, sebelum aku mempunyai kekuatan abadi dari Hougyoku yang telah bangkit."

Bumi Waktu Malam Bagaikan Kelereng Hitam Berpendar

Di Indonesia, pusat cahaya paling terang berada di Pulau Jawa dan sedikit di Sumatra.

bumi,nasaImaji Bumi malam hari menggunakan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) yang berada di satelit milik NOAA. (Doc.NASA).
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengeluarkan foto Bumi saat malam hari dari luar angkasa. Planet kesayangan kita ini nampak bagi kelereng hitam dengan pendaran cahaya-cahaya kecil di atasnya.
Pendaran ini berasal dari cahaya listrik yang digunakan kita, manusia, di Bumi. Sayangnya cahaya ini tidak merata. Terlihat Benua Afrika alpa dari sinaran cahaya. Demikian juga dengan Indonesia, di mana pusat cahaya paling terang berada di Pulau Jawa dan sedikit di Sumatra. Sedangkan Indonesia bagian timur tak memancarkan pendaran apa pun.
Sebaliknya, Benua Eropa bermandikan kilauan sorot lampu. Begitu juga dengan Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan. Di Benua Amerika, pendaran paling mencolok berasal dari Amerika Serikat yang berada di Amerika Utara. Sedangkan Amerika bagian selatan hanya memancarkan sedikit kilauan.
Foto yang bebas dari gangguan awan ini diambil imajer berteknologi tinggi di satelit milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Sensor yang ada dalam perangkat ini memungkinkan mengambil tiga imaji dengan cahaya rendah secara simultan.
Teknologi ini memungkinkan para peneliti mempelajari atmosfer, darat, dan laut saat malam hari. "Ini merupakan data berkualitas tinggi," kata Christopher Elvidge, salah satu peneliti NOAA, saat pertemuan American Geophysical Union di San Francisco, AS, Kamis (6/12).
Sensor yang disebut Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) bisa menangkap pancaran Bumi malam hari dengan resolusi yang lebih tajam. VIIRS sendiri berada di satelit Suomi NPP yang mengorbit 800 kilometer di atas kutub Bumi.
(Zika Zakiya. Sumber: NASA, The Independent)
 

Rabu, 12 Desember 2012

Chapter 520. Killers Not Dead [Text Version]


..........

Keadaan sudah kembali tenang. Soul Society sudah mulai kembali memapahkan kakinya, mencoba berdiri setelah kepalanya terpotong oleh lawan. Tiada waktu untuk menoleh ke belakang saat i
ni. Masih banyak halangan yang harus dilawan di depan sana. Tak ada waktu untuk menangisi sesuatu yang telah pergi. Namun, masih ada waktu untuk membalaskan kepergian mereka.

Titah Sang Reiou untuk membawa Ichigo, Renji, Byakuya dan Rukia ke istana sang raja roh telah terlaksana. Di sana, putra Kurosaki ini mulai menyembuhkan dirinya dari luka bersama Tenjirou, salah satu anggota Royal Guard. Di Soul Society, keadaan mulai tenang, terlihat semuanya sudah bisa mengendalikan emosi mereka.

Di Kantor Hachibantai Taichou/ Ruang Komandan Divisi 8
Suaraketukan pintu kayu terdengar cukup keras. Namun, tak terdengar suara balasan dari dalam ruangan. Nanao telah berulang kali mengetuk daun pintu kayu sambil memanggil sang taichou di dalam. Nihil, teriakannyapun tak dijawab seolah di dalam memang tak ada seorang lain. Namun, Nanao yakin taichounya masih berada di sana, tapi dia tak yakin apa alasan sang taichou hingga tak menjawab panggilannya.

"Aku masuk, taichou. Permisi." Akhirnya dia menyerah, tersirat sesaat guratan kesal di wajahnya. Dia mendorong pintu di depannya dengan cukup pelan, hingga tak terdengar suara riukan pintu kayu itu. Pintunya tak dikunci hingga dengan dorongan pelanpun sudah cukup bagi perempuan ini untuk melihat sosok taichou yang berada di depan sana. "Kenapa anda tak men--"

Ucapannya terhenti disaat sang taichou, Kyoraku Shunsui menjawab sapaannya tadi. "Nanao-chan." Ucapan Kyouraku begitu pelan, tersirat nada kesedihan di balik ucapannya. "Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." Nanao yang berada dibelakangnya tersentak, langsung menghentikan langkah kakinya. Dia tak mengerti, mengapa tiba-tiba taichounya berkata seperti itu. Tak seperti seorang Kyouraku yang dia kenal, seorang Kyouraku yang ceria, yang selalu mengguratkan senyum disetiap dirinya berhadapan dengan sosok perempuan ini.

Nanao hanya termenung, terdiam dengan ketidakmengertiannya. Mulutnya hanya berucap sebatas kata "eh" saat mendengar ucapn aneh Taichounya. Namun, Kyouraku punya alasan tersendiri dengan ucapannya. Tangannya masih menggenggam sebuah lemparan surat. Sebuah surat yang tertulis untuk seorang Kyouraku Jirou Souzousa Shunsui. Iya, nama panjang seorang taichou senior itu tertulis lengkap di sana. Sebuah pesan singkat tertulis disamping nama cukup panjang tersebut "Nama yang ditulis pada lembar di samping ditunjuk sebagai soutaichou Gotei 13 dan taichou Divisi 1"

"Maaf!" Ucap sang calon Soutaichou itu di tengah keheningan diantara dua orang ini.
.
..
...
Suasana kembali ke dimensi lain, dimensi di atas Soul Society tempat sang raja roh mulai membuka kedua kelopam matanya. Tempat Ichigo dan yang lain dibawa. Tempat kediaman kelima Royal Guard, sang pendamping Reiou.

Onsen Kirin / Pemandian Air Panas Kirin
"Sembilan satuuuu, Sembilan duaaaa, Sembilan tigaaaa!" Teriak dua orang anak buah Tenjirou mencoba menenggelamkan Ichigo ke dalam air panas pemulih itu. Ichigo yang kehabisan nafas mencoba berontak sekuat tenaga untuk mengeluarkan kepalanya dari dalam air. " Sembilan- AGH" Sebuah tendangan berhasil menghantam salah satu wajah dari kedua pemuda itu. Ichigo tersengal-sengal kehabisan nafas.

"Gagal, dasar tolol!! Padahal anak kecil juga bisa!!" Ucap Tenjirou yang duduk santai tak jauh dari mereka, mencoba untuk menyindir pemuda kepala orange itu, sepertinya. "Gak pernah dibilangin waktu masih bocah ya?! Kalau berendam, harus diam di air dan menghitung sampai 100!! Itu saja gak bisa?!"

"Berendamnya cuma sampai dagu!!" Balas ichigo kesal. Dadanya masih kembang kempis mencoba mengatur nafanya yang hilang. "Mana ada orang tua yang menyuruh anaknya tenggelam dan menghitung sampai 100?!"

"Berisik!" Ucapan Tenjirou menimpal. "Kazuo! Kazuhiro!! Tenggelamkan dia lagi!" Perintahnya kejam. Tangan Tenjirou masih memegang pipa yang sesalu berada dalam gigitannya. Kedua pemuda yang berpakaian aneh itu kembali mencoba menenggelamkan Ichigo setelah mengiyakan perintah aniki-nya. Ichigo kembali melawan, mencoba berontak. Namun, tenaganya masih kurang kuat untuk melawan dua orang sekaligus hingga tubuhnya perlahan kembali menyentuh air panas itu.

"Sebentar." Perintah kembali sang Tenjirou. Kedua kakinya melangkah pelan ke arah ketiga orang yang berdiri heran di dekatnya. Lalu, tiba-tiba sebuah pukulan keras melayang tepat mengenai dada Ichigo, membuat shinigami pengganti itu terlempar cukup jauh hingga keluar kolam pemandian.

"Apa-apaan barusan?!" Marah, tentu saja. Menerima pukulan tiba-tiba seperti itu, membuat dirinya begitu emosi. Namun, Tenjirou di depannya hanya menatap dengan sedikit senyuman yang samar, sambil menunjukkan perban milik Ichigo yang sekarang sudah berada di genggamannya.

"Kau sudah sembuh." Ucapnya santai sambil menunjuk pada dada Ichigo. "Kalau belum, harusnya kau mati barusan. Lihat. Lukamu juga sudah hilang." Ichigo hanya terheran mendapati tubuhnya yang sudah kembali bersih. Tak ada lagi bekas luka sayat, memar, ataupun lainnya yang tertinggal di tubuhnya. Kulitnya terlihat begitu bersih, mengkilat. "Tujuanmu sudah selesai di sini. Kau akan kukirim ke tempat berikutnya."

"Tempat berikutnya?" Tanya Ichigo masih tidak mengerti.

" Tunggu!" Sebuah teriakan berhasil membuah kedua kepala itu menoleh. Sesosok tubuh penuh dengan perban telah berdiri di dekat mereka. tak akan ada yang bisa mengenali identitasnya, bila saja dia tak mempunyai rambut merah panjang sebagai ciri khasnya. Iya, Abarai Renji, sosok inilah yang berteriak, seolah mencegah kepergian Ichigo. "Aku juga ikut!"

" Renji! Kau masih... " Tolak Ichigo, namun ucapannya langsung terpotong setelah melihat apa yang dilakukan oleh Tenjirou. Sang Royal Guard ini langsung memukul tubuh Renji, sama seperti apa yang telah dia lakukan pada ichigo sebelumnya. Pukulannya begitu keras hingga membuat air panas di pemandian itu berhamburan karena hempasa tenaganya. Tapi, Renji masih di sana, berdiri dalam diamnya. Tenjirou begitu terkejut, walaupun matanya sempat melihat tubuh Renji yang gemetar menerima pukulannya secara langsung seperti itu. Namun, sebuah rasa kagum sedikit dia rasakan seraya menunjukkan senyumannya yang tidak utuh.

"Bagaimana? Aku tidak terlempar." Ucap renji bangga, dengan sekuat tenaga menahan kakinya yang gemetar untuk tetap kuat menahan tubuh lemahnya.

".Boleh juga, kalau kau bisa menahan pukulanku, berarti kau tak apa-apa. Sana pergi!" Ucap Tenjirou setelah cukup lama terdiam, sepertinya masih berpikir akan keputusannya ini.

"Ah... Baik!" Bibirnya menyimpul menciptakan semuah senyuman lebar. Terlalu senang, agaknya begitu.

..

Setelah semua persiapan selesai. Akhirnya keduanya akan beranjak ke tempat selanjutnya. Masih belum tentu kemana tujuan mereka, mungkin ke kota milik Hikifune, mungkin ke tempat Shuutara, atau ke tempat Bonze... mungkin ke yang satu lagi. Tak ada yang tahu, yang pasti mereka berdua sekarang berdiri di sebuah lingkarang, sama seperti saat Ichigo dilempar ke tempat ini.

"Apa cuma ini caranya berpergian di sini?!" Belum sempat dia protes, Kazuo sudah memukul dengan palu dam membuat keduanya terlempar bersama denga teriakan histeris mereka. "WAAAAAAAAH"

"Mereka sudah pergi..." Ucap Tenjioru memastikan sambil menatap tempat mereka melempar Ichigo. "Kazuo! Kazuhiro! Barusan pasti menyulitkan bagi kalian. Kalian boleh melepas kimono yang basah itu!"

Setelah mengiyakan, keduanya langsung melempas baju aneh yang dipakai mereka. Mereka terlihat begitu senang setelah melewati semua ini, saat baju mereka dilempar ke arah air panas, kain itu langsung terbakar, hangus tak bersisa. Begitu juga dengan tubuh keduanya, terlihat luka bakar yang cukup serius dipunggung mereka.

"Ya ampun...Kalau kita tak pakai pakaian pelindung spesial itu pasti kita meledak gara-gara air "penyembuh super" ini... Mereka benar-benar luar biasa bisa telanjang begitu berendam di dalam Neraka Tengkorak dan Kolam Neraka Berdarah milik Tenjirou-sama..." Ucap Kazuo heran.

"Mereka benar-benar luar biasa..." Timpal Kazuhirou

"Ya..." Ucap tenjirou menyetujui. "Mereka sebenarnya melebihi dugaanku. Terutama si Ichigo." Terlihat tangan Tenjirou yang berada di dalam air panas, terluka cukup serius, akibat setelah memukul Ichigo, agaknya. "Bocah itu waktu dia kuhajar, Dia melawan dan meretakkan jariku."

Kedua orang di depannya hanya terkaget melihat tangan tuannya yang terluka.

"Padahal dulu aku disebut "Shunsoku Tenjirou" karena kecepatanku. Dan menurutku kemampuanku belum tumpul. Artinya, bocah itu hebat juga. Aku bisa mengerti kenapa Reiou tertarik padanya."
Shunsoku Tenjirou = Tenjirou si Kecepatan Kilat
...
..
.
Kembali lagi ke dimensi yang lain. Dimensi yang berada di bawah istana raja roh. Dimensi yang ketuai oleh para orang tua, Central 46.

Chamber 46
Chamber 46 adalah tempat para Central 46 yang selalu membuat keputusan. Terdiri dari 40 orang bijak, dan 6 orang hakim. Keadaan di dalam sama memang seperti ini, atmosfir yang selalu mencekam di setiap keputusan yang mereka buat. Seolah, tiada shinigami yang ingin berhadapan langsung dengan mereka. Walaupun anggota mereka telah berubah karena insiden yang dilakukan Aizen, namun, mereka tak pernah mengendorkan peraturan mereka, sedikitpun.

Sang calon Soutaichou telah berada di dalam sana, di bawah, dikelilingi oleh para tetua dengan wajah yang terhalangi oleh papan di depan wajah mereka. Namun yakinlah bila mereka telah memasang wajah paling menakutkan dibalik semua itu. Kyouraku, masih terlihat begitu santai di sana. Tak terlihat sama sekali ketakutan di wajahnya, bahkan setelah mengajukan permintaan yang membuat para tetua ini berteriak cukup kencang.

"Dua fukutaichou?!"

Wajah Kyouraku menunduk, mencoba untuk menghormati 46 orang terhormat ini. "Okikiba-daisanzeki yang akan bertanggung jawab masalah Seireitei, dan Ise-fukutaichou yang mengikutiku. Mereka tahu cara kerja masing-masing. Mereka berdua akan jadi asistenku."

"Kau tak bisa berbuat semaumu...!" protes salah satu tetua.

"Setiap taichou punya hak untuk mengangkat dan menurunkan jabatan fukutaichou divisinya" Jawab Kyouraku santai. "Kalian yang menentukan itu, 'kan?"

Para tetua itu tak ada yang menjawab. Tak satupun dari mereka yang angkat bicara. Seolah mereka tak bisa melawan hukum yang mereka buat sendiri. Bila tak ada papan tipis yang menghalangi wajah mereka, pasti terlihat bagaimana mereka menggertakkan gigi mereka saat itu.

"Kalau begitu, boleh aku menjalankan tugasku? Sebagai seorang soutaichou." Ucap kyouraku kembali. Mata Kyouraku begitu dalam menghadapi orang-orang adil ini. "Aku akan mengajari Zaraki Kenpachi Zanjutsu, seni membunuh." Tak ada nada bercanda dalam perkataannya. Kyouraku benar-benar serius dengan ucapannya. Dia tahu, seharusnya, dimana dirinya menempatkan dirinya. Dia tahu bila yang dihadapinya adalah para tetua yang menjadi ayah bagi Soul Society.

"Apa...?!" Teriak salah satu dari 46 orang itu secara langsung. Tak terima, sepertinya begitu. Sebuah pukulan pada meja tiba-tiba terdengar. Tak ada dari mereka yang setuju dengan ide gila sang Soutaichou yang baru beberapa menit menjabat itu.

Kyouraku sendiri tak ambil pusing dengan semua itu. Dia tahu apa yang ada dipikirannya. Dia telah kehilangan mata kanannya, dia tak ingin kehilangan hal lain yang lebih berharga untuknya. " Kuchiki-taichou dan yang lainnya pergi ke Reioukyuu, tapi kita tak tahu apa mereka akan kembali hidup-hidup. Kekuatan tempur Zaraki-taichou sangatlah penting. Bukan hal bagus kalau dia dibiarkan seperti sekarang."

" Tidak!" Para tetua masih tetap pada pendirian mereka. "Bila dia dibiarkan lebih kuat dari sekarang, mustahil menghentikannya andai dia memberontak!! Apa kau lupa kalau Genryuusai berhenti mengajarinya setelah satu hari?!"

Kyouraku menghela nafas, terlihat cukup kesal dengan semua ini. "Kalau begitu bagaimana?Soul Society yang sekarang tak akan bisa bertahan dari serangan lain." Tak ada yang berubah dengan nada bicaranya. "Atau mungkin... Kalian bisa melindungi Soul Society?"

Hening....

Tak ada jawaban yang terlempar, tak ada teriak yang begitu keras, tak ada ketukan meja yang memecah ruangan. Tak ada... Mulut mereka bungkam, seolah para tetua ini sudah kehilangan pita suara untuk berbunyi. Mereka... tak tahu harus menjawab apa...

Hening....

"Sepertinya aku sudah memperoleh persetujuan kalian." Sedikit kelegaan tersirat dibalik Ucapan Kyouraku. Senyum tipis tercipta walau tak tampak. Dia masih sadar dengan siapa dia berhadapan, dengan para tetua yang menggerakkan Soul Society, pemegang penuh pemerintahan Soul Society. " Masuklah. Zaraki-taichou kuserahkan pada anda, Unohana-taichou."

Yonbantai taichou ini menapakkan kakinya memasuki ruangan yang begitu mencekam. Tak terlihat seperti biasanya, wajah sang Yonbantai Taichou ini terlihat tak kalah mencema dengan suasana di sana. Tak ada senyuman yang biasanya tercipta diantara dua bibirnya. Sebuah tatapan tajam, tersorot dari kedua matanya.

"Bukan, "Kenpachi" generasi pertama, Unohana Yachiru." Ucap Kyoraku membenarkan.

Kenpachi generasi pertama, tak ada yang menyangka bila Yonbantai taichou inilah adalah seorang Yachiru yang begitu dikagumi oleh Zaraki. Tak ada yang menyangka bila shinigami terkuat pada masanya ini masih hidup, masih berdiri di tengah-tengan Soul Society.

By : Bleach Indonesia
 

Selasa, 11 Desember 2012

Fakta laki-laki korea

Namja Adalah Bahasa Korea yang Artinya
Cowok atau Bahasa Gaulnya Cowok Korea.
Di bawah ini beberapa fakta tentang Namja
Korea :

~ Rata-rata tinggi namja korea adalah 175-185

~ Namja korea suka sama fashion dan mereka suka pake baju trendi dan cerah maybe karena kulit   mereka bagus jadi cocok pake warna apa aja

~ Kebanyakan Namja Korea punya selera humor yang bagus dan mereka kadangkadang kaga malu bertingkah konyol =P

~ Yang pastinya Namja Korea punya tubuh bagus ga krus ga gendut,hehehe,wlau ada juga yg Six Pack^^

~ Mereka suka melakukan love sign pada orang yang mereka cintai 
~ Namja korea di kenal sangat perasa , jika yeoja nya minta putus maka ia akan sakit hati kadang sampai menangis *-*

~ Namja korea kalo nyatain cintanya langsung , engak melalui via sms/tlpn ^^

~ Kalau cwe-nya marah Namja korea kadang memohon-mohon supaya engak marah contoh “chagi,jeongmal mianhae mianhae,mianhae”~namja korea dikenal sangat setia (jarang banget yang ngelakuin selingkuh)

~ Namja korea biasanya ngajak kencan di area ice skating/tempat karokean
~ Kalo yeoja nya kedinginan , dia suka gosok2 tangannya lalu nempelin ke pipi cwenya *omo so sweett*

 ~ Namja korea kadang suka meluk Yeoja-nya dari belakang secara tiba-tiba

~ Kalo yeoja-nya kedinginan (smpai gemeteran) namja korea langsung ngelakuin (HOT KISSING)~

~ Namja korea kalo ngeliat cwenya suka Deket-deket

~ Namja korea paling sering kissing di kala hujan *-*

~ Banyak Namja korea kalo udah ngelakuin french kiss suka ngelap bibirnya

~ Namja korea gak berani sentuh-sentuh bagian sensitive yeoja-nyaa …
~ Leeteuk oppa pernah ciuman di box telfon dimana saat itu lagi ujan

~ kesan pertama kissing kyuhyun “bibirnya basah” dan katanya dia ingin melakukannya lagi*-*

~ Di korea itu biasanya oemma dan appa dari masing-masing udah tau kalo mereka itu pacaran ^^

~ kalo orang tua nya udh percaya bangett ama itu namja , gak jarang mereka ninggalin mreka ber2 begitu aja

~ Namja korea paling kesel kalo yeoja-nya caper ke namja lain

~ Namja korea kadang suka nyuapin cwenya

~ Kalo misalnya mau kencan , mreka lebih suka jalan dari pada naek mobil

~ Gak jarang namja di korea bawa tas yeojanya^^

~ Dikorea rata-rata yeoja ama namjanya suka pake bju,jaket,sweatter yang sama*-*

~ Namja korea suka banget ngelus rambut yeojanya

~ Dikorea namja bermasker bertebaran dimana-mana

~ Namja korea jarang nge sms yeojanya tapi lebih sering nelfon yeojanya

Kamis, 06 Desember 2012

Salju di Korea

Mari Menikmati Musim Salju di Korea Dengan berbagai Festival !

Festival Musim Dingin di Korea Selatan

1. Taebaek Mountain Snow Festival

Setiap dari bulan Oktober sampai bulan Maret, Korea Selatan akan mengalami musim dingin atau musim dimana akan ada turunnya salju (Maaf kalau salah. Cr dari beberapa sumber). Nah, dengan menyambut salah satu musim mengasyikkan ini, di Negara Gingseng Korea Selatan selalu mengadakan Festival musim dingin setiap tahunnya. Salah satu yang paling terkenal adalah, Taebaek Mountain Snow Festival atau Festival musim salju gunung Taebaek.

Seperti namanya, Festival ini bertempat di gunung Taebaek yang pemandangannya makin super duper bagus waktu musim salju. Sayangnya, festival musim dingin ini hanya diadakan mulai dari 27Januari sampai dengan 5 Februari. Walau begitu, banyak banget lho hal seru yang bisa kamu lakuin disini. Mulai dari lomba-lombaan bikin sesuatu dari salju, lombaan Siberian Husky dog sleeding *Apaan yak?._., ice sleeding, kontes climbing nasional, kontes manusia salju dan Okung sled riding, melototin patung-patung es raksasa yang terpajang dan menghiasi area tertentu, mengemudi kereta luncur, dan yang paling seru adalah festival layang-layangnya! Bayangin, nerbangin layang-layang diatas salju?

Tuan rumah untuk sebuah festival salju setiap musim dingin selama 10 hari ini, juga selalu dibuka dengan pertunjukan musik dan kontes memahat salju untuk mahasiswa seni.

Menurut survei yang dilakukan oleh situs portal festival, Taebaek Mountain Snow Festival dipilih sebagai lokasi festival nomor satu di Korea yang ingin dikunjungi. Selain pemandangan eksotis dari puncak Gunung Taebaek yang berselimutkan salju putih nan cantik. Ternyata, pengunjung juga sangat tertarik dengan patung salju menjulang tinggi yang ada di sekitar Taebaek City.

Hebatnya, saking bagusnya, pemandangan dari Gunung Taebaek ini telah diperkenalkan di seluruh Eropa seperti Belanda, Belgia, Jerman, Perancis, dan Spanyol, oleh sebuah stasiun penyiaran Belanda yang diikuti oleh M6 TV Prancis dari jaringan nasional yang meliput daerah tersebut. Program yang terdiri dari sembilan episode mengudara pada NET5 dari Belanda dan Belgia VT4 dari 1 April - 27 Mei.

2. Inje Icefish Festival

Nah, di tengah-tengah Januari sampai Februari, di danau Sangyo, provinsi Gangwon-do juga diadakan festival musim dingin yang dinamakan Inje Icefish Festival. Kita bisa menikmati pemandangan gunung Naeseoraksan dan juga bermain ski ataupun snowboarding disini.

Enggak cuma itu, di Inje Icefish Festival juga ada Inje Bingeo Fishing Festival. yaitu perlombaan memancing diatas es. Tujuan dari lombaan ini, tak lain agar para pengunjung lebih terhibur dengan adanya Inje Icefish Festival. Penonton festival diajak langsung untuk mencoba memancing di atas sebuah sungai beku yang hanya dilubangi beberapa cm diameternya. Dan jangan salah, meski suhu disana menjapai puncak dingin yang menusuk tulang, misal pada akhir Januari, tidak menghalangi keexcitedan pengunjung yang ingin bertelungkup di atas es untuk melihat lebih dekat pada ikan yang mereka pancing. Para pemancing terlihat sangat menikmati air bersih dari Soyang Lake 'beku' itu, di mana dua saluran air dari pegunungan berkumpul.

3. New Year (Seollal) Festival

Masih di musim dingin. Tepatnya pada tanggal 23 Januari, Korea Selatan memperingati Hari pergantian tahun mereka yaitu Tahun Baru Imlek, atau dalam bahasa koreanya: Seollal. Museum Sejarah Seoul selalu mengadakan Festival tahunan Seollal pada Hari tahun baru Imlek.

Dari mulai pukul 11 pagi sampai 5 sore, museum ini akan menampilkan pertunjukan, instrumen, pakaian tradisional, dan makanan dari seluruh dunia, dalam balutan tema untuk memperkenalkan acara tradisional Korea dari sudut pandang internasional.

Menariknya, peserta festival juga dapat mencicipi makanan tradisional, mencoba pakaian tradisional dan mencoba alat musik tradisional dari berbagai negara, termasuk Cina, Thailand dan Mongolia serta Korea.

4. Jeju Jeongwol Daeboreum Fire Festival

Yang keempat adalah Festival Api Daeboreum Jeongwol di Pulau Jeju. Festival tentang “membakar kemalangan” dan “menarik keberuntungan”.

Festival ini diselenggarakan dari 2 Februari – 4 Februari, Festival Api di Daeboreum Jeongwol dimulai dengan ritual doa untuk panen yang baik. Festival api Jeongwol Daeboreum berasal dari tradisi kuno masyarakat Korea, yaitu kebiasaan membakar ladang yang sudah dipenuhi ilalang dengan tujuan untuk membasmi hama. Kebiasaan membakar ladang ini biasanya dilakukan menjelang masa tanam untuk bibit-bibit yang baru.
Dan sekarang, festival api di Jeju ini dikemas dengan modern dan sangat menarik. Di hari pertama festival, akan diadakan pertunjukan laser yang kemudian diikuti dengan parade obor.

Di hari berikutnya, permainan rakyat tradisional khas Korea akan ditampilkan, contohnya adalah yutnori yang merupakan papan permainan tradisional yang dimainkan dengan melempar empat tongkat kayu. Kemudian, ada juga permainan juldarigi yang merupakan permainan tentang peperangan.
Hari terakhirnya, acara puncak dimulai. Yakni pembakaran ladang. Namun sebelum itu, akan diadakan pertunjukan kembang api di as Oreum, sebuah sebuah gunung berapi parasit.

Sementara itu, ada juga acara-acara lain yang tak kalah seru selama festival api ini berlangsung. Misalnya sesi meramal, perjalanan naik gunung, tari-tarian perang untuk “Great Unity”, sebuah “lighting of the sacred fire,” kompetisi membangun “moon house”, demonstrasi mengangkat batu (deumdol-deulgi), pertunjukan ucapan selamat dari kota-kota pertukaran internasional, ataupun festival kuliner yang juga menampilkan sup kacang merah Korea yang populer itu.
 
By : Korean Drama Lovers
 

Chapter 519. Hot, Hot, Heat [Text Version]


..........
 
Pertempuran memang sudah berakhir. Namun, bukanlah suatu alasan bagi shinigami untuk lega. Tak ada waktu untuk bersyukur untuk kehidupan yang masih mereka rasakan untuk saat ini. Tak a
da jaminan bila serangan tak akan pernah datang kembali, tak ada yang tahu kapan serangan yang lebih dahsyat akan menyapa mereka. Tiada yang melarang mereka tersenyum untuk saat ini. Namun, musuh masih mengintai dengan tawa liciknya.
...
..
.
Beralih ke atas Seireite, dimensi berbeda tempat dimana shinigami biasa menapakkan kakinya. Tempat yang jauh lebih agung dari Seireite, bahkan, perlu lima pelindung yang jauh lebih kuat dari para anggota Gotei 13 yang pernah menjabat. Dentuman pilar suci terdengar begitu nyaring menghantam lantai istana raja roh. Berterima kasihlah pada sang Shiba, karena kemampuannya, mereka bisa kembali berdiri di tempat yang seharusnya. Para Royal Guard ini tak lagi lima orang, mereka membawa empat tumpangan lainnya, Byakuya, Renji dan Rukia yang terluka dan seorang shinigami pengganti berambut orange, Kurosaki Ichigo.

"Jadi ini Reioukyuu..." Gumam Ichigo pelan setelah menatap tempat yang begitu asing baginya.

"Benar!" Ucap sang Bonze, salah satu anggota Royal Guard yang memiliki kepala botak menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap ichigo. "Kau harusnya bangga! Biasanya, shinigami biasa tak diperbolehkan ke sini! Yah, Walaupun kurang tepat juga menyebutmu "shinigami biasa"

"Ini tempat yang susah payah Aizen coba untuk masuki..." Hati Ichigo membesit, namun tiba-tiba tentang sesuatu, tentang tujuan sang mantan taichou divisi lima itu, yang membuat dirinya berbuat sejauh itu. "Se... Sebentar! Bukannya kita seharusnya cuma bisa masuk Reioukyuu dengan Ouken?! Kapan kau menggunakannya?!"

"Ada di sini." Sang Bonze kembali menghentikan langkah kakinya, berbalik ke arah Ichigo sembali menunjukkan lengan kekarnya. "Ouken dibentuk dari kekuatan Reiou, yang diberikan pada orang-orang yang dia pilih sebagai anggota Zerobantai. Ouken adalah tulang-tulang kami. dengan kata lain ada dua cara untuk masuk Reioukyuu. Pertama bisa dengan membiarkan kau masuk dengan seizin kami, atau kau bisa mencoba membuat Ouken, seperti yang Aizen lakukan maksudku begini Aizen mencoba untuk "Membuat" salah satu dari kami dengan reijutsu-nya."

"Membuat kehidupan, membunuh sang raja dan mengambil tahta ketuhanan, tidak salah lagi, Sousuke Aizen, adalah perwujudan iblis." Ucap seseorang yang lain menimpali, Shuutara. "Namun harap ingat, Kurosaki Ichigo. Para Quincy itu tiada lain jauh lebih iblis daripada Aizen."
...
..
.
"Siip! Diam di sana! Jangan bergerak!!" Ucap sang Royal Guard dengan gaya yang sangat berbeda itu, dengan rambut panjang yang menjulur ke depan, mulutnya selalu terlihat menggigit sesuatu semacam lidi. "Baiklah, Bersiaplah meluncur di atas langit yang indah!Jangan bergerak! Nanti kau bisa mati."

Ichigo sudah berdiri di atas sebuah lingkaran. Dia sama sekali tak mengerti apa yang akan dilakukan pada dirinya itu. Sang Royal Guard dengan penampilan seperti yakuza itu sudah bersiap mengayunkan tangannya, memukul sebuah tombol dengan palu raksasa. "Siaaaap!Terbanglah men..."

"Tunggu... Tunggu tunggu tunggu!" Teriak Ichigo tidak yakin.

"Apaan?"

"Apanya yang "apaan"?! Bukannya harusnya kau menjelaskan dulu?! Kau mau mengirimku ke mana?! Apa aku akan bertemu Reiou?!"

"Haaa?! Kau tolol ya?! Mana mungkin rakyat jelata macam kau bakal bertemu Reiou--" Lalu kemudian sebuah tangan besar sudah menampar kepalanya dari belakang. "ADOOOOH!!!!!!"

"Jelaskan yang benar!" Ucap Kirio sambil tersnyum dengan wajah tanpa dosa. "Dengar baik-baik. Meskipun "Reioukyuu" adalah nama yang digunakan untuk menyebut seluruh tempat ini. Tapi sebenarnya kita masih di atas "Reioukyuu Ometesando"*, jalan masuk untuk ke istana yang sebenarnya. Kalau kau melihat di ujung tempat ini, ada bangunan yang kelihatan seperti kepompong raksasa.Itulah kastil yang sesungguhnya, Daireioukyuu, tempat tinggal Reiou. Selain itu..." Tangan besarnya sekarang menunjuk pada sesuatu seperti piringan yang mengambang di udara. " Lima piringan yang melayang itu adalah tempat markas Zerobantai. Istana kami sendiri. Terdapat sebuah kota di tiap piringan tersebut. Reiou mempercayakan perlindungan tiap kota pada kami."

"Sebuah kota..." Ucap Ichigo sedikit tak pengerti.

"Pertama-tama..." Potong sang Yakuza dengan nada nyaringnya. "Kalian akan menginjakkan kaki di atas "Kirinden"-ku!* Kalian semua!"
*) Istana Kirin, Kirin adalah makhluk legenda di mitologi Jepang. Semacam kuda dari petir.
.
..
...
Ichigo kini sudah berada disalah satu kota yang menjadi tanggung jawab salah satu anggota Royal Guard. Tempat yang sangat sulit untuk dideskripkan berada diatas piring melayang itu. Sebuah pemandian air panas raksasa dengan tembok yang mengalirkan air bak air terjun di sekelilingnya. Sebuah potongan bambu raksasa juga pasti akan memikat mata bila kita berada di sana, menimbukan dentuman keras saat bambu itu terisi penuh oleh air hangat, sebuah suara berisik yang dapat mengganggu ketenangan saat berdantai menikmati hangatnya air itu.

Ichigo dan Royal Guar berpenampilan Yakuza itu sudah berada di sana, menanggalkan pakaian mereka dan berendam mamanjakan tubuhnya seolah tiada beban yang mereka pikirkan.

"BERISIK!!!" Teriak Ichigo ketika telinganya ternganggu oleh dentuman bambu raksasa di sampingnya. "Tapi itu bukan yang paling menyebalkan!! Apa-apaan ini?! Kenapa kita di sini?!"

"Woi, jangan teriak-teriak. Dan awas handukmu lepas..." Ucap sang Yakuza santai.

" Kenapa kita bersantai di pemandian air panas begini?! Untuk apa aku dibawa ke sini?!"

"Ha? Bukannya jelas? Ini penyembuhan dengan pemandian air panas." Balasnya dengan nada yang tak berubah. Tiba-tiba sebuah kepala mengambang di dekatnya. Iya, Ichigo kenal betul siapa itu. Sang Rokubantai Taichou, Kuchiki Byakuya juga berada diantara mereka. Tubuhnya masih dibalut oleh perban seperti terakhir terlihat. Namun, sang Yakuza langsung meninju kepala bangsawan terhormat itu kembali ke dalam air dengan begitu santainya, seolah sang taichou itu hanyalah mainan tak berharga baginya. "Oh. Harusnya jangan mengambang."

"Byakuya?!" Ucap Ichigo sedikit sadar. "Sebentar!! Kenapa kau menenggelamkannya?! Dia bisa mati!! Dan... kapan dia kau masukkan ke situ?!"

"Berisik..." Ucap Yakuza tak senang dengan protes Ichigo. Lalu tangannya mengangkat kepala yang lain dengan ekspresi wajah seseorang yang berteriak `Kejuuutan..` di saat ulang tahun temannya. "Bukan cuma Byakuya juga."

"Renji juga?!" Ucap Ichigo tak mengerti. "Dan kau mengangkatnya seperti nanas?!"

Kemudian Ichigo berbalik seolah mendapatkan petunjuk bila dirinya akan memperoleh kejutan yang lain. Benar saja, dibelakangnya terlihat Rukia yang mengapung dengan bokongnya yang mencuat ke atas air, seolah tertulis `inilah bokong terbaik yang pernah ada di Soul Society.`

"Bahkan Rukia?!"

"Bokongnya kelihatan seperti persik, ya?"

"DIAAAM!!!"

"Kalau tak ada yang mau kau bicarakan, diamlah. Dengan membiarkan mereka di dalam air..." Ucap sang Yakuza dengan nada sedikit serius. "Reiatsu mereka yang terluka diperas keluar bersama dengan darah mereka."

"Reiatsu yang terluka?"

"Bisa lihat pemandian air panas warna merah di sana?" Telunjuknya menunjuk pada sebuah kolam kecil dengan air berwarna merah yang mendidih. Di dekatnya terdapat sebuah papan kecil memanjang dengan tulisan `Kolam Neraka Berdarah`

"Ketimbang "pemandian air panas", yang kulihat justru "Kolam Neraka Berdarah"..." Ucap Ichigo.

"Ya, memang papannya tulisannya begitu." Ucap Yakuza tak mengerti. Tangannya langsung mengangkat tubuh Byakuya yang sedari tadi tenggelam, kemudian menatap kolam berwarna merah itu dengan seksama seolah tulisan di papan itu terbaca `Ayo lemparkan tubuh selanjutnya`, setidaknya begitu menurutnya.

"Hiaaat!" Benar saja, tubuh bangsawan itu langsung dia lempar ke arah kolam yang cukup jauh dari tempatnya berendam itu. Tubuhnya tanpa dosa menghempaskan taichou terhormat itu begitu saja. Tubuh bangsawan itu berputar dengan indahnya di atas udara, bak mobil-mobilan yang dilempar anak kecil, sebelum tercebur dengan begitu mantapnya ke pemandian mendidih itu.

"WOI!!" Teriak Ichigo tidak terima. "Gila ya?! Dia bisa mati!!"

"Sudah kubilang, diam!!" Bentak Yakuza juga tak terima. " Darahnya diserap di tulang tengkorak putih ini dan diisi lagi di kolam neraka berdarah. Dengan mengulang-ngulang beberapa kali, darah dan reiatsu yang sudah membusuk diserap dan diganti dengan yang ada di pemandian ini. Ini teknik penyembuhanku!"

"Apa cara ini..."

"Kau... Bukannya murid Urahara Kisuke?"

"Bu... Siapa yang bilang begitu?!"

" Di "tempat main" Shihouin Yoruichi. Kau lihat ada pemandian air panas yang aneh, 'kan?"

Sesaat memori Ichigo menjalar mencari sesuatu. Iya, masih ada dalam memorinya tentang onsen aneh tempat dirinya beristirahat saat latihan bankai bersama Yoruichi waktu dia dan kawan-kawannya masuk Soul Society pertama kali.

"Urahara Kisuke membuat pemandian itu setelah berkali-kali menganalisis air di pemandianku." Ucap Kirinji Tenjirou, sang Iblis Pemandian Air Panas, nama asli Royal Guard yang memiliki penampilan seperti Yakuza ini.

"Woi!! Sudah kubilang jangan sampai handukmu lepas!!" Bentaknya kembali pada Ichigo.

"Oh?! Maaf, maaf."

"Jangan cuma minta maaf! Kalau tak ditaruh di atas kepala, reiatsu-mu bakal bocor dan kau akan mati!!"

"Eeh?!"
...
..
.
Di tempat lain, di Daireioukyuu, tempat sang Raja Roh terdiam, sepertinya terjadi sesuatu. Terdapat sebuah cahaya yang bersinar cukup terang membungkus seorang tubuh laiknya manusia. Seseorang berada di sana, bersimpuh sujud menunjukkan segala penghormatan yang agung bagi sosok yang melayang di depannya.

"Apakah anda sudah bangun?" Ucapannya halus, penuh rasa hormat yang meluncur dari pengucapannya. "Reiou-sama."

Sang Reiou membuka kedua kelopak matanya. Tak ada pupil bulat yang menatap di sana. Sebuah pandangan kosong bagi seorang Raja. Sosok yang tak bisa ditebak bila hanya pertama kali melihatnya. Sang Reiou, Raja roh agung, sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan Soul Society, kini telah menampakkan dirinya yang sebenarnya.

__________ Trans : Xaliber [English : Mangapanda, Mangastream]
___________ Deskrip : Angoez.
By : Bleach Indonesia